JAKARTAHYPE.COM - Industri pariwisata di kawasan Asia Tenggara saat ini kembali dibayangi tantangan signifikan setelah sempat menunjukkan tren pemulihan yang menjanjikan pasca-pandemi Covid-19. Ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang kembali menekan sektor vital ini.

Kekhawatiran ini meningkat menjelang periode liburan musim panas, yang secara tradisional merupakan waktu krusial bagi perputaran ekonomi sektor wisata di banyak negara ASEAN. Gangguan yang terjadi berpotensi membatalkan momentum positif yang telah dibangun selama dua tahun terakhir.

Salah satu dampak langsung dari gejolak geopolitik tersebut adalah kenaikan harga energi yang substansial di pasar global. Kenaikan biaya bahan bakar ini secara otomatis berimbas pada kenaikan tarif tiket pesawat yang harus ditanggung oleh para wisatawan.

Kenaikan biaya perjalanan udara ini diperkirakan akan memengaruhi daya tarik destinasi wisata di Asia Tenggara bagi pasar internasional. Selain itu, situasi global yang tidak menentu juga membuat minat masyarakat untuk melakukan perjalanan jarak jauh cenderung melemah.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi negara-negara ASEAN yang struktur ekonominya sangat bergantung pada kontribusi sektor pariwisata. Negara seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja perlu segera menyusun strategi mitigasi risiko.

Dilansir dari Euronews, Kamis (4/6/2026), pariwisata telah lama diakui sebagai salah satu pilar utama yang menopang perekonomian kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. Sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan menghasilkan devisa signifikan bagi negara-negara anggota.

Lebih spesifik mengenai kontribusi ekonomi, sektor pariwisata di Thailand tercatat menyumbang hampir 13% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Angka ini menunjukkan betapa rentannya perekonomian Thailand terhadap gejolak eksternal seperti krisis energi.

Sementara itu, kontribusi sektor yang sama di Vietnam juga cukup besar, yakni sekitar 9% dari PDB nasional mereka. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas sektor pariwisata adalah kunci keberlanjutan ekonomi Vietnam.

Bagi Kamboja, sektor pariwisata tidak hanya menyumbang secara finansial tetapi juga menjadi sumber penghidupan esensial bagi jutaan warganya. Gangguan pada sektor ini akan berdampak langsung pada kesejahteraan sosial masyarakat luas.