JAKARTAHYPE.COM - Diskusi mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap perilaku pasien berlangsung di Jakarta pada Rabu (13/5/2026). Fenomena penggunaan AI seperti ChatGPT dan Gemini dalam mendiagnosis penyakit secara mandiri kini mulai menjadi perhatian serius bagi para ahli kesehatan.

Integrasi teknologi digital dalam sektor medis ternyata memberikan efek domino yang dapat menurunkan tingkat kepatuhan pasien terhadap instruksi dokter. Hal ini sebagaimana dilansir dari Lifestyle mengenai riset terbaru yang dilakukan oleh lembaga Health Collaborative Center (HCC).

"Di sini teman-teman, kita lihat pathway hasil self-diagnostic itu enggak akan ke mana-mana, berakhir dengan pengabaian rekomendasi dokter," ujar Ketua Peneliti dan Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.

Kelompok masyarakat usia produktif di bawah 39 tahun menjadi pihak yang paling sering memanfaatkan teknologi ini sebelum berkonsultasi secara resmi. Kecenderungan ini mengubah pola interaksi di ruang periksa, di mana pasien datang bukan untuk berkonsultasi secara terbuka, melainkan demi mendapatkan legitimasi atas diagnosis pribadi.

"Pas mereka datang, mereka akan ngomong bahwa, setengah dari mereka itu akan ngomong, 'Saya sudah punya hasil diagnosis dari ChatGPT'. Dan ini sering banget saya dengar dari teman-teman saya," kata Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi.

Masalah serius muncul ketika informasi dari AI dianggap sudah cukup akurat oleh pasien sehingga mereka merasa tidak perlu mengikuti prosedur medis formal. Akibatnya, banyak pasien yang memutuskan untuk tidak menebus resep obat resmi yang telah diberikan oleh tenaga medis.

"Dua puluh tujuh persen pasti akan mengabaikan resep dan rekomendasi dari tenaga kesehatan. Tinggi enggak? 27 persen kecil, tapi ini tiga dari 10, lho. Dari 100 orang, ada 27 orang," tutur Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi.

Berdasarkan riset HCC, sikap keras kepala dalam menolak prosedur medis ini justru didominasi oleh masyarakat urban dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang mapan. Rasa percaya diri yang berlebihan pada kelompok ini memicu tindakan swamedikasi yang berisiko fatal bagi tubuh.

"Apesnya, dia ke warung beli obat atau beli antibiotik. ChatGPT udah bilang, 'Anda infeksi paru'. Biasanya infeksi paru menggunakan antibiotik dosis tinggi," jelas Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi.