Jakarta, JakartaHype.com - Selama ini, pagi hari kerap dianggap sebagai waktu terbaik untuk memeras keringat. Namun bagi penyandang diabetes tipe 2, anggapan tersebut tampaknya perlu ditinjau ulang. Sebuah riset terbaru yang dihimpun Health mengungkapkan bahwa berolahraga pada sore hingga malam hari justru jauh lebih efektif dalam mengontrol kadar gula darah.
Para ahli yang melakukan tinjauan mendalam terhadap berbagai penelitian menyimpulkan, aktivitas fisik di penghujung hari mampu mendongkrak sensitivitas insulin secara signifikan. Artinya, tubuh menjadi lebih efisien dalam menggunakan insulin untuk menyerap gula dari aliran darah. Kontras dengan temuan tersebut, olahraga pagi justru tidak menunjukkan dampak yang terlalu besar.
Fenomena ini diperkuat oleh sebuah studi pada tahun 2019 yang menguji pasien pria dengan diabetes tipe 2. Mereka yang melakoni high-intensity interval training (HIIT) di sore hari mengalami perbaikan klinis pada kadar gula darahnya. Sebaliknya, kelompok yang melakukan menu latihan serupa di pagi hari justru mengalami efek yang berlawanan atau kurang menguntungkan.
Mengapa Sore dan Malam Lebih Unggul?
Ada dua alasan medis utama yang melatarbelakangi temuan ini:
Faktor Jam Biologis Hormon (Kortisol): Di pagi hari, tubuh secara alami memproduksi hormon kortisol (hormon stres) dalam jumlah tinggi. Lonjakan kortisol ini memicu pelepasan cadangan gula ke dalam darah. Jika dipicu lagi dengan olahraga berat di pagi hari, kadar kortisol dikhawatirkan kian melambung dan memicu kenaikan gula darah.
Strategi Pasca-Makan: Olahraga setelah mengisi perut terbukti sangat ampuh meredam lonjakan glukosa. Sementara itu, mayoritas pegiat olahraga pagi biasanya langsung beraktivitas sebelum menyantap sarapan.
Tetap Bergerak: Manfaat Instan hingga Jangka Panjang
Meski sore hari menjadi waktu yang ideal, para pakar medis menegaskan bahwa olahraga kapan pun tetap membawa dampak positif yang besar ketimbang hidup sedentari (kurang bergerak).
Secara instan, otot yang aktif bergerak akan langsung membakar gula sebagai sumber energi utama. Bahkan, satu sesi latihan saja mampu mengaktifkan sensitivitas insulin yang menjaga gula darah tetap stabil hingga 24 jam ke depan.
Memang, ada pengecualian untuk olahraga berintensitas tinggi seperti sprint atau angkat beban berat. Jenis latihan ini bisa memicu kenaikan gula darah sementara akibat lonjakan adrenalin, namun secara akumulatif dalam jangka panjang, efeknya tetap sangat menyehatkan.
Dalam jangka panjang, konsistensi berolahraga akan membuahkan hasil berupa:
Penurunan kadar HbA1c (standar emas pemantauan gula darah rata-rata 2–3 bulan).
Peningkatan massa otot secara optimal.
Penurunan berat badan yang lebih terukur.
Rekomendasi Medis untuk Penderita Diabetes
Demi hasil yang aman dan maksimal, Asosiasi Diabetes Amerika menetapkan standar aktivitas fisik dengan intensitas sedang minimal 150 menit per minggu. Target durasi ini sebaiknya tidak dihabiskan dalam satu waktu, melainkan dibagi ke dalam beberapa sesi pendek yang rutin.
Jenis olahraga yang sangat disarankan meliputi aktivitas kardio ringan hingga penguatan, seperti jalan kaki, jogging, berenang, bersepeda, latihan beban, hingga olahraga ketenangan seperti yoga dan tai chi.
Namun, mengingat kondisi tubuh setiap orang berbeda, penderita diabetes wajib mengedepankan aspek kehati-hatian. Berkonsultasi dengan dokter sebelum mengadopsi program latihan baru serta disiplin mengecek kadar gula darah sebelum dan setelah berolahraga adalah langkah preventif yang tidak boleh dilewatkan.
Bukan Pagi, Studi Ungkap Olahraga Sore dan Malam Lebih Ampuh Jinakkan Gula Darah
Alan Wijaya
19-05-2026 • 08 : 54 WIB
•
10313 Views
Bukan Pagi, Studi Ungkap Olahraga Sore dan Malam Lebih Ampuh Jinakkan Gula Darah (Foto: Ilustrasi Olahraga Sore/Istimewa)
×