JAKARTAHYPE.COM - Pada akhir pekan ini, perhatian dunia akan tertuju pada keagungan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Lokasi bersejarah ini akan menjadi titik sentral pelaksanaan perayaan Hari Raya Waisak.

Penetapan tanggal perayaan ini sangat spesifik, yaitu tepat pada tanggal 31 Mei. Momen ini merupakan puncak peringatan hari besar agama Buddha di Indonesia.

Waktu pelaksanaan perayaan Waisak di Borobudur memiliki kaitan historis yang panjang, dimulai sejak era kejayaan Dinasti Syailendra pada abad ke-8. Pada masa itu, Borobudur berfungsi sebagai kompleks ibadah Buddha terbesar.

Namun, tradisi sakral ini sempat mengalami jeda atau terhenti selama ratusan tahun. Hal ini terjadi seiring dengan berpindahnya pusat kerajaan dan kondisi candi yang sempat terkubur oleh waktu dan alam.

Kebangkitan kembali perayaan Waisak modern di situs Warisan Dunia UNESCO ini dimulai pada tahun 1929. Perayaan awal ini digagas oleh komunitas spiritual yang berusaha menghidupkan kembali spiritualitas candi.

Perayaan berskala nasional yang lebih besar dan terorganisir kemudian diselenggarakan pada tahun 1953. Tonggak sejarah ini ditandai dengan peran penting dari tokoh agama Buddha terkemuka.

"Perayaan nasional besar-besaran pada tahun 1953 kemudian disusul, dipelopori oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita," demikian disarikan mengenai peran tokoh tersebut dalam mengembalikan gaung Waisak di Borobudur.

Dikutip dari informasi yang beredar, proses regenerasi tradisi ini menunjukkan kesinambungan iman Buddha di Indonesia meskipun sempat terputus oleh sejarah panjang.

Perayaan Waisak di Borobudur tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi penanda pentingnya warisan budaya dan spiritualitas bangsa.