JAKARTAHYPE.COM - Era ponsel tangguh seperti Nokia dan Ericsson kini telah berganti dengan dominasi smartphone modern seperti iPhone atau Samsung Galaxy yang siklus pakainya jauh lebih singkat. Dilansir dari CNBC Indonesia, perangkat canggih saat ini umumnya hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga tahun penggunaan saja sebelum mengalami kendala teknis.
Salah satu hambatan utama bagi konsumen adalah sulitnya melakukan perbaikan mandiri akibat desain perangkat yang sangat terintegrasi. Jika dipaksakan untuk diperbaiki, biaya jasa reparasi maupun harga komponen penggantinya seringkali melonjak hingga hampir menyamai harga unit baru di pasaran.
"Meskipun smartphone masa kini dibekali memori dan penyimpanan yang lebih luas, kebutuhan aplikasi terhadap daya pemrosesan juga terus meningkat secara signifikan," tulis penulis laporan Failing the Fix. Hal ini diperparah dengan tren layar lebar yang rentan pecah serta masalah baterai yang kerap bocor seiring bertambahnya usia perangkat.
Kebijakan produsen teknologi yang membatasi akses pengguna untuk membongkar perangkat sendiri juga menjadi sorotan tajam dalam industri ini. Banyak perusahaan yang secara otomatis menghanguskan garansi jika pemilik nekat memperbaiki ponsel mereka di luar pusat servis resmi yang telah ditentukan.
Menanggapi fenomena tersebut, pemerintah Eropa mulai menerapkan aturan "right to repair" guna menjamin hak konsumen dalam memperbaiki barang milik mereka sendiri. Perusahaan kini diwajibkan menyediakan informasi dan spesifikasi teknis mendetail melalui sistem registrasi produk Uni Eropa demi transparansi komponen.
US PIRG Education Fund kemudian memanfaatkan data dari Eropa tersebut untuk menyusun peringkat kemudahan reparasi merek ponsel dalam laporan bertajuk Failing the Fix. Penilaian ini didasarkan pada enam kategori utama, termasuk langkah-langkah akses komponen baterai dan keberadaan perkakas khusus perbaikan.
"Skor reparabilitas ini juga mempertimbangkan ketersediaan suku cadang di toko independen, masa dukungan pembaruan perangkat lunak, serta akses terhadap dokumen panduan reparasi," ungkap penulis laporan Failing the Fix. Faktor-faktor inilah yang menentukan seberapa lama sebuah ponsel dapat terus digunakan secara layak oleh pemiliknya.
Hasil riset menunjukkan bahwa Motorola menempati posisi teratas dengan nilai B+, diikuti oleh Google yang mendapatkan skor C-. Sementara itu, dua raksasa teknologi dunia, Samsung dan Apple, harus puas berada di posisi terbawah dengan masing-masing nilai D dan D-.
"Kategori yang membuat iPhone milik Apple mendapatkan skor paling buruk adalah aspek perangkat lunak yang sangat membatasi pihak ketiga dalam melakukan perbaikan," jelas penulis laporan Failing the Fix. Apple diketahui menggunakan sistem "pairing komponen" untuk memastikan hanya suku cadang resmi yang bisa berfungsi normal.