JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan terbaru dalam dunia kecerdasan buatan (AI) menunjukkan adanya dampak finansial signifikan dari interaksi pengguna dengan ChatGPT. CEO OpenAI, Sam Altman, baru-baru ini mengeluarkan imbauan agar pengguna mengurangi penggunaan bahasa kesopanan saat berinteraksi dengan model AI tersebut.
Permintaan ini disampaikan karena kesopanan yang ditampilkan pengguna, seperti mengucapkan "tolong" dan "terima kasih", ternyata memicu kenaikan biaya operasional OpenAI secara substansial. Hal ini disebabkan oleh peningkatan konsumsi energi yang diperlukan untuk memproses permintaan tersebut.
"Puluhan juta dolar yang dihabiskan- Anda tidak akan pernah tahu," tulis Altman melalui akun X miliknya, sebagai respons atas pertanyaan warganet mengenai dampak finansial dari interaksi yang sopan tersebut. Pernyataan ini menyoroti betapa besarnya beban biaya yang ditimbulkan oleh setiap interaksi.
Alasan utama di balik tingginya biaya energi ini adalah cara kerja ChatGPT yang mengandalkan model bahasa besar atau large language models (LLMs). Model-model canggih ini memerlukan daya komputasi yang sangat besar untuk beroperasi secara efektif.
Proses komputasi ini dijalankan pada ribuan unit GPU berkinerja tinggi yang berada di pusat data perusahaan. Pusat data ini secara inheren menyedot energi dalam jumlah yang fantastis untuk menjaga kinerja AI tetap optimal.
Sebagai ilustrasi konkret, satu respons singkat dari AI, seperti pembuatan paragraf atau balasan email, diperkirakan mengonsumsi sekitar 0,14 kilowatt-jam (kWh) listrik. Angka ini setara dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan 14 lampu LED selama satu jam penuh.
Jika konsumsi energi ini dikalikan dengan miliaran interaksi yang terjadi setiap hari di seluruh dunia, maka pembengkakan total konsumsi energi menjadi sangat drastis. Dilansir dari New York Post, Minggu (26/4/2026), pusat data saat ini sudah menyumbang sekitar 2% dari total konsumsi listrik global.
Angka kontribusi pusat data terhadap konsumsi listrik dunia ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan semakin pesatnya adopsi teknologi AI generatif di berbagai sektor.
Namun, di sisi lain, terdapat pandangan dari beberapa pakar AI yang menilai bahwa menjaga kesopanan tetap penting dalam konteks pembentukan interaksi yang lebih positif dengan mesin. Mereka melihat bahasa yang santun dapat memengaruhi kualitas respons yang dihasilkan oleh AI.