JAKARTAHYPE.COM - Mi instan telah lama menjadi pilihan makanan praktis dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Namun, kebiasaan mengonsumsinya langsung tanpa dimasak terlebih dahulu berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan.

Fenomena mengonsumsi mi instan mentah ini kembali mencuat setelah sebuah kasus tragis di Mesir pada tahun 2025. Seorang remaja berusia 13 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah menyantap tiga bungkus mi instan mentah.

Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa kematian tersebut diduga kuat berkaitan dengan gangguan usus akut atau penyumbatan saluran pencernaan akibat konsumsi mi instan mentah dalam jumlah besar. Kejadian ini sontak memicu kekhawatiran publik mengenai keamanan kebiasaan tersebut.

Mi instan dikategorikan sebagai ultra-processed food (UPF), yakni makanan olahan industri yang seringkali mengandung berbagai bahan tambahan seperti pengawet, penstabil, penguat rasa, dan perisa. Konsumsi UPF secara berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis berdasarkan berbagai penelitian.

Ketika dikonsumsi dalam keadaan mentah, mi instan menghadirkan risiko tambahan yang spesifik pada sistem pencernaan. Hal ini karena mi instan sejatinya dirancang untuk dikonsumsi setelah melalui proses pemasakan. "Proses pemanasan membuat pati menyerap air dan menjadi lebih mudah dicerna oleh enzim di saluran cerna," sebagaimana dijelaskan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Food Research International tahun 2025.

Tekstur mi instan yang masih keras dan kadar airnya yang sangat rendah saat mentah membuat proses pencernaan menjadi lebih lama. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa begah, ketidaknyamanan perut, atau gangguan pencernaan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Ditambah lagi, kebiasaan mengonsumsi mi instan mentah seringkali disertai dengan penaburan bumbu langsung tanpa dilarutkan. Kombinasi tekstur mi yang keras dengan bumbu berkadar garam tinggi ini memberikan beban ekstra pada saluran pencernaan.

Kandungan natrium yang tinggi dalam bumbu mi instan diketahui dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus dan memicu respons peradangan. "Pola makan tinggi garam berkaitan dengan perubahan komposisi bakteri usus yang dapat mengganggu kesehatan saluran cerna dan meningkatkan respons inflamasi," ungkap sebuah penelitian dalam The Journal of Nutrition pada 2022. Garam berlebih juga berpotensi melemahkan lapisan pelindung usus dan memperparah peradangan.

Oleh karena itu, mengonsumsi mi instan mentah beserta bumbunya secara berulang tidak hanya berisiko mengiritasi saluran cerna, tetapi juga dapat meningkatkan kemungkinan gangguan kesehatan usus dalam jangka panjang.