LOS ANGELES, JakartaHype.com – Akademi Seni dan Ilmu Pengetahuan Layar Lebar (AMPAS) secara resmi mengumumkan aturan baru yang memperketat penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam ajang penghargaan Oscar. Mulai tahun 2027, penampilan aktor dan naskah yang dihasilkan sepenuhnya oleh AI dinyatakan tidak layak untuk masuk dalam nominasi penghargaan bergengsi tersebut.
Aturan terbaru ini menetapkan bahwa meskipun sineas diperbolehkan menggunakan alat bantu AI dalam proses produksi, kategori pemeran "sintetis" atau aktor digital tidak akan diakui dalam kategori akting, sebagaimana dikutip dari Engadget pada Sabtu (2/5/2026). Hal serupa berlaku untuk kategori penulisan skenario, di mana naskah yang diajukan harus merupakan hasil karya manusia (human-authored). Untuk memastikan kepatuhan, pihak Akademi berhak meminta informasi tambahan dari pengirim karya guna mengonfirmasi keterlibatan manusia dalam proses kreatif.
Kebijakan ini muncul di tengah perdebatan mengenai penggunaan AI dalam film terbaru berjudul As Deep as the Grave. Film independen tersebut menampilkan sosok mendiang aktor Val Kilmer melalui teknologi AI secara penuh. Kilmer, yang meninggal dunia pada April 2025, awalnya direncanakan membintangi film tersebut namun terpaksa mundur karena alasan kesehatan sebelum akhirnya wafat.
Sutradara sekaligus penulis film tersebut, Coerte Voorhees, mengungkapkan bahwa keputusan menggunakan AI merupakan bentuk penghormatan terhadap keinginan terakhir sang aktor. "Keluarganya terus menyampaikan betapa pentingnya film ini bagi Val. Dukungan dari pihak keluarga memberikan kami kepercayaan diri untuk melanjutkan proyek ini meskipun menuai kontroversi," ujar Voorhees.
Selain isu aktor digital, industri perfilman Hollywood juga dikejutkan oleh kemunculan alat baru dari ByteDance, yakni Seedance 2.0. Teknologi ini mampu menghasilkan klip video 15 detik yang sangat realistis hanya melalui perintah teks singkat. Salah satu hasil produksinya yang viral menunjukkan simulasi pertarungan antara Tom Cruise dan Brad Pitt di atas gedung, yang memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku industri kreatif.
Menanggapi gejolak tersebut, ByteDance dilaporkan telah menunda peluncuran alat tersebut sementara waktu. Saat ini, Hollywood dan otoritas di Washington mulai memberikan perhatian serius terhadap regulasi AI, mengingat perkembangan teknologi yang kini memungkinkan pembuatan film layar lebar hanya melalui beberapa baris perintah teks.