JAKARTAHYPE.COM - Seorang nenek bernama Ida Huddleston dari Kentucky bagian utara, Amerika Serikat, bersama keluarganya, membuat keputusan mengejutkan dengan menolak tawaran uang dalam jumlah besar. Perusahaan pengembang pusat data (data center) telah mengajukan tawaran fantastis senilai US$26 juta, setara dengan kurang lebih Rp441 miliar.

Lahan pertanian yang menjadi objek sengketa ini memiliki luas sekitar 1.200 hektar. Penolakan tegas ini muncul karena kekhawatiran mendalam mengenai dampak pembangunan infrastruktur digital raksasa tersebut terhadap lingkungan sekitar.

Identitas perusahaan yang mengajukan tawaran menggiurkan tersebut hingga kini masih belum terungkap ke publik. Perempuan berusia 82 tahun ini membeberkan alasan kuat di balik penolakannya yang berani terhadap potensi keuntungan besar tersebut.

Salah satu pertimbangan utama wanita paruh baya ini adalah isu kekurangan pasokan air dan potensi keracunan lingkungan yang sering dilaporkan di area dekat fasilitas pusat data serupa. Ia memiliki pengalaman pahit dari dampak yang sudah terjadi.

"Mereka menyebut kami petani tua bodoh, namun kami tidak bodoh," jelas Ida Huddleston, dikutip dari Tech Crunch pada Senin (30/3/2026).

Ia menegaskan bahwa komunitas mereka sangat menyadari konsekuensi yang akan ditimbulkan oleh proyek tersebut terhadap keberlangsungan hidup mereka. Kesadaran ini menjadi penentu utama dalam menolak tawaran tersebut.

"Kami tahu tiap makanan kami menghilang, lahan kami juga menghilang dan kami tidak punya air, dan racun. Ya kami tahu pernah mengalaminya," tambah Huddleston.

Meskipun pihak perusahaan telah menjanjikan bahwa pembangunan pusat data akan menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Mason County, Huddleston tetap skeptis terhadap janji manis tersebut.

"Ini penipuan," tegas Huddleston, menunjukkan ketidakpercayaan totalnya terhadap narasi kemajuan yang ditawarkan oleh korporasi.