JAKARTAHYPE.COM - Menjelang perayaan Idul Adha, umat Islam diimbau untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amalan sunnah selama 10 hari pertama bulan Zulhijah. Salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan pada periode ini adalah menjalankan ibadah puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah.

Puasa Tarwiyah dan Arafah dilaksanakan tepat dua hari sebelum hari raya Idul Adha. Menurut buku Cinta Shaum, Zakat dan Haji karya Kertamuda, puasa Zulhijah mencakup seluruh ibadah sunnah yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan tersebut, termasuk kedua puasa spesifik ini.

Puasa yang jatuh pada tanggal 8 Zulhijah dikenal dengan sebutan puasa Tarwiyah, sedangkan puasa pada tanggal 9 Zulhijah dinamakan puasa Arafah. Kedua puasa ini memiliki keutamaan pahala yang luar biasa.

Pelaksanaan puasa Arafah bertepatan dengan momen penting ketika jemaah haji sedang berkumpul dan melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Namun, penting dicatat bahwa anjuran puasa ini dikhususkan bagi umat Islam yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji.

Buku Pintar Agama Islam karya Abu Aunillah Al-Baijury mencantumkan lafal niat yang perlu dibaca untuk melaksanakan puasa sunnah Tarwiyah. Niat tersebut adalah "Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta'âlâ," yang memiliki arti "Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta'âlâ."

Adapun untuk puasa Arafah, lafal niat yang dianjurkan adalah "Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnati Arafah lillahi ta'âlâ." Hal ini berarti, "Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah SWT," ungkap sumber tersebut.

Dikutip dari Detikcom, tata cara pelaksanaan kedua puasa sunnah ini pada dasarnya sama dengan puasa wajib lainnya. Muhammad Ibrahim dalam bukunya Pintar Puasa Wajib dan Sunnah merinci bahwa langkah awalnya adalah melafalkan niat di hati pada malam hari sebelum fajar terbit.

Setelah niat dilakukan, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sahur menjelang waktu subuh, sebelum masuk waktu imsak. Kemudian, puasa dijalankan dengan menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang membatalkan puasanya hingga matahari terbenam.

Selain menahan diri dari hal-hal jasmani, menjaga hati dan panca indera dari perbuatan dosa juga sangat krusial agar pahala puasa tidak hangus. Rasulullah SAW pernah mengingatkan pentingnya hal ini dalam sebuah hadits.