JAKARTAHYPE.COM - Fenomena baru sedang melanda industri teknologi global, di mana gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal kini mendapatkan kambing hitam yang berbeda dari sebelumnya. Jika dulu PHK dikaitkan dengan efisiensi pasca-pandemi, kini para pemimpin perusahaan teknologi kompak menunjuk perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI).

Beberapa raksasa teknologi terkemuka seperti Google, Amazon, dan Meta disebut-sebut mulai mengaitkan pengurangan karyawan mereka dengan peningkatan kapabilitas AI. Bahkan, perusahaan lain seperti Atlassian dan Pinterest juga menyuarakan sentimen serupa mengenai dampak AI terhadap kebutuhan tenaga kerja.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, sempat memberikan proyeksi mengenai transformasi dunia kerja di masa depan yang sangat dipengaruhi oleh teknologi ini. "Saya pikir tahun 2026 akan menjadi momen di mana AI mulai secara drastis mengubah cara kita bekerja," ujar CEO Meta, Mark Zuckerberg, pada Januari, dikutip dari BBC, Senin (30/3/2026).

Ironisnya, setelah pernyataan tersebut, Meta dilaporkan langsung melakukan perampingan ratusan posisi karyawan dalam struktur organisasi mereka. Langkah ini menunjukkan adanya korelasi cepat antara pandangan pemimpin perusahaan mengenai AI dan aksi pengurangan tenaga kerja.

Di sisi lain, pandangan serupa datang dari CEO Block, Jack Dorsey, yang melihat AI sebagai alat yang memungkinkan perusahaan beroperasi lebih ramping. "Tim yang lebih kecil kini bisa melakukan lebih banyak hal, bahkan dengan hasil yang lebih baik," ujarnya.

Dorsey secara terbuka menyatakan bahwa alat berbasis AI saat ini telah mengubah secara fundamental definisi dalam membangun dan menjalankan sebuah perusahaan. Hal ini mengindikasikan pergeseran paradigma dalam kebutuhan sumber daya manusia.

Namun, narasi yang dilontarkan para CEO ini tidak sepenuhnya diterima tanpa keraguan oleh semua pihak. Investor teknologi, Terrence Rohan, menganggap menyalahkan AI sebagai strategi narasi yang lebih mudah diterima publik.

"Menyebut AI membuat tulisan blog terdengar lebih menarik," ujar Rohan. Ia menambahkan, "Atau setidaknya tidak membuat Anda terlihat sebagai pihak jahat yang hanya ingin memangkas karyawan demi efisiensi biaya," imbuhnya.

Terlepas dari narasi yang beredar, terdapat faktor finansial masif yang mendorong PHK, yaitu kebutuhan investasi besar pada pengembangan AI. Perusahaan seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon diperkirakan akan mengalokasikan dana hingga US$ 650 miliar untuk pengembangan AI dalam kurun waktu satu tahun mendatang.