JAKARTAHYPE.COM - Kebijakan kerja dari rumah (WFH) yang diterapkan khusus pada hari Jumat bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) telah mengubah dinamika interaksi mereka dengan pekerjaan sehari-hari. Perubahan ini memaksa seluruh koordinasi dan penyelesaian tugas sepenuhnya bergantung pada perangkat digital seperti laptop dan gawai.
Perubahan pola kerja ini, seperti diinformasikan dari ranah Gaya Hidup, membawa konsekuensi yang kurang menyenangkan bagi kesehatan mental para pekerja. Keharusan untuk selalu memberikan respons cepat sering kali muncul sebagai upaya pegawai untuk menunjukkan bahwa mereka tetap produktif meskipun bekerja dari rumah.
Kondisi ini pada akhirnya berkontribusi pada munculnya fenomena kecemasan digital, yang mendorong para ASN cenderung melakukan pekerjaan secara berlebihan (overworking). Hal ini terjadi karena batasan antara ruang personal dan alat kerja menjadi semakin tidak jelas.
Psikolog Klinis dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, mengidentifikasi bahwa masalah utama bersumber dari asosiasi otak antara notifikasi gawai dengan beban kerja. "Otak kita itu mengasosiasikan semua notifikasi, semua gadget kita seperti laptop, handphone, dengan kerja," sebut Clement saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Pada dasarnya, proses bekerja membutuhkan energi dan sering kali memicu ketegangan yang berorientasi pada target tertentu. Ketika WFH Jumat diterapkan, semua tuntutan pekerjaan tersebut disalurkan melalui notifikasi yang masuk ke gawai pribadi.
Akibatnya, tanpa disadari oleh pekerja, bunyi pesan masuk dari kantor langsung disamakan dengan beban pekerjaan yang harus segera diselesaikan di rumah. "Kebetulan notifikasi dan kerja itu sudah terasosiasi dengan kuat, sehingga memicu kecemasan. Yang mana sebenarnya kerja itu sendiri sudah melelahkan dan mencemaskan," jelas Clement.
Seiring waktu, respons stres mulai muncul hanya dengan melihat layar gawai atau mendengar bunyi notifikasi dari grup kantor. Perasaan cemas ini dianggap wajar karena otak mulai menganggap perangkat elektronik sebagai sumber tekanan kerja yang terus menerus hadir.
"Secara enggak langsung, notifikasi pun akhirnya terasosiasi dengan kecemasan, sehingga jadilah kecemasan digital," terang Clement.
Selain isu notifikasi, dorongan untuk bekerja lebih keras saat WFH Jumat juga dipicu oleh adanya ekspektasi performa yang sering kali tidak realistis. Ketika bekerja jarak jauh, pegawai rentan menebak-nebak standar kinerja yang sesungguhnya diharapkan oleh atasan.