JAKARTAHYPE.COM - Gaslighting, sebuah istilah yang semakin populer, sering dikaitkan dengan dinamika hubungan romantis. Namun, pemahaman mendalam mengenai praktik manipulatif ini masih kurang dimiliki oleh sebagian masyarakat.

Padahal, gaslighting merupakan tindakan yang berpotensi signifikan merusak fondasi sebuah hubungan interpersonal. Mengenali tandanya secara dini menjadi kunci untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Secara sederhana, gaslighting didefinisikan sebagai respons dalam sebuah pertengkaran yang dirancang untuk membuat lawan bicara mulai meragukan persepsi dan realitas diri mereka sendiri. Tindakan ini sering terjadi secara terselubung.

Psikiater Owen Scott Muir menjelaskan sifat dari manipulasi ini. "Gaslighting bisa menjadi sebuah tindakan manipulasi emosi yang tidak terlihat," ujarnya, menambahkan bahwa ini merupakan upaya untuk menguasai kendali atas orang lain.

Karena sifatnya yang manipulatif dan cenderung tidak kasat mata, pengenalan terhadap tanda-tanda gaslighting sangat esensial. Tujuannya adalah melindungi kesehatan mental sebelum hubungan mengalami kerusakan permanen.

Salah satu manifestasi utama gaslighting adalah ketika korban mulai meragukan pandangan atau penilaian pribadinya. Hal ini sangat kentara saat terjadi perdebatan, di mana korban akhirnya menyalahkan diri sendiri atas situasi yang terjadi.

Tindakan gaslighting sering kali berdampak negatif terhadap sistem pendukung sosial korban. Pelaku cenderung mengisolasi individu tersebut dari teman dan keluarga yang seharusnya menjadi sumber dukungan emosional mereka.

Pelaku juga akan bekerja keras membuat korban merasa tidak memiliki pendirian yang kuat mengenai berbagai hal, khususnya terkait hubungan yang sedang dijalani. Korban sering dibuat merasa bahwa reaksi mereka terhadap suatu situasi adalah berlebihan.

Tanda lain yang patut diwaspadai adalah ketika pelaku secara konsisten "mengingat" suatu kejadian dengan urutan kronologi yang berbeda dari fakta sebenarnya. Narasi yang diubah ini membuat korban merasa selalu berada di posisi yang salah dalam setiap argumen.