Jakarta, JakartaHype.com - Arus mudik Lebaran tahun ini diprediksi akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memperkirakan sekitar 143,91 juta orang akan melakukan perjalanan ke kampung halaman menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari kendaraan pribadi hingga kapal laut.

Namun, di balik antusiasme tersebut, ancaman mabuk perjalanan (motion sickness) membayangi para pemudik. Pakar kesehatan mengingatkan bahwa kondisi fisik yang prima tidak hanya bergantung pada istirahat yang cukup, tetapi juga pada pola konsumsi sebelum melakukan perjalanan jauh.

Efek Domino Makanan Berlemak dan Pedas

Banyak pemudik cenderung memilih makanan praktis seperti gorengan atau sajian cepat saji di titik-titik keberangkatan. Padahal, makanan tinggi lemak memerlukan waktu pencernaan yang jauh lebih lama dibandingkan nutrisi lainnya.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Therapeutic Advances in Gastroenterology, kondisi lambung yang penuh akibat proses pencernaan lemak yang lambat dapat memperkuat sensasi mual. Saat tubuh mengalami guncangan kendaraan secara terus-menerus, sinyal dari saluran cerna akan berinteraksi dengan sistem saraf pusat dan memicu respons mual yang lebih berat.

Selain lemak, kegemaran masyarakat mengonsumsi makanan pedas juga menjadi catatan merah. Kandungan capsaicin dalam cabai diketahui dapat meningkatkan sensitivitas visceral pada saluran pencernaan. Paparan senyawa ini merangsang reseptor nyeri dan meningkatkan produksi asam lambung, sehingga perut lebih mudah bereaksi negatif terhadap guncangan fisik selama di perjalanan.

Bahaya Tersembunyi di Balik Minuman Segar

Bukan hanya makanan, jenis minuman tertentu juga dapat memperburuk kondisi tubuh saat mudik. Konsumsi kopi atau teh pekat yang mengandung kafein seringkali dianggap sebagai solusi agar tetap terjaga. Namun, laporan dalam jurnal Nutrients (2020) menyebutkan bahwa kafein dapat meningkatkan sekresi asam lambung secara signifikan.

"Sekresi asam lambung yang meningkat membuat perut terasa lebih sensitif. Efek diuretik ringan dari kafein juga berisiko menyebabkan kehilangan cairan tubuh yang dapat memperparah rasa pusing," tulis laporan tersebut.