JAKARTAHYPE.COM - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka baru-baru ini menyampaikan pandangan krusial mengenai peran teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan nasional. Pesan ini ditujukan secara spesifik kepada seluruh kalangan pelajar di Indonesia.
Inti dari pesan yang disampaikan adalah penekanan bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai akselerator atau alat bantu untuk mempercepat proses pembelajaran siswa. Hal ini bertujuan agar kualitas pendidikan dapat meningkat seiring dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini.
Gibran secara tegas mengingatkan bahwa fungsi AI tidak boleh disalahartikan sebagai jalan pintas yang justru dapat memicu munculnya kemalasan dalam berpikir kritis dan analitis di kalangan pelajar. Penggunaan yang tidak tepat dikhawatirkan akan menghambat perkembangan intelektual dasar siswa.
Jaringan Telekomunikasi Sulteng Mulai Pulih Pasca Gempa M 6,7, Kominfo Petakan Gangguan BTS
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, perkembangan pesat dalam ranah AI telah membawa dampak signifikan terhadap perubahan paradigma literasi di tengah masyarakat luas. Pergeseran fokus ini menuntut adanya adaptasi cepat dari semua lini pendidikan.
Jika dahulu kemampuan dasar yang menjadi tolak ukur utama literasi adalah kemampuan baca tulis yang klasik, kini tuntutan telah bergeser secara fundamental. Penguasaan terhadap literasi digital telah menjadi kompetensi baru yang wajib dikuasai oleh setiap individu modern.
Menanggapi hal tersebut, Gibran menekankan pentingnya perspektif yang benar dalam menyikapi teknologi mutakhir ini. "Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa AI harus dipandang sebagai alat bantu untuk mempercepat proses belajar, bukan sebagai jalan pintas yang justru dapat memicu kemalasan berpikir," ujar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Lebih lanjut, mengenai transformasi literasi, Gibran menggarisbawahi perubahan kebutuhan zaman. "Perkembangan pesat AI telah mengubah paradigma literasi di masyarakat. Jika dahulu fokus utama adalah kemampuan baca tulis, kini penguasaan literasi digital menjadi tuntutan baru yang harus dipenuhi oleh setiap individu," kata beliau.
Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan untuk mengintegrasikan AI secara bijak, memastikan bahwa teknologi tersebut mendukung penguatan kompetensi, bukan menggantikan fungsi utama otak dalam proses belajar mengajar.