JAKARTAHYPE.COM - Sebuah fenomena baru yang menarik perhatian publik dan memicu diskusi hangat tengah terjadi di kalangan tentara muda Korea Selatan yang sedang menjalani wajib militer. Para prajurit pria dari generasi Z dilaporkan semakin banyak yang memilih menjalani prosedur kecantikan, mulai dari operasi hidung hingga kelopak mata, saat masih dalam masa dinas aktif.
Fenomena ini menjadi sorotan karena perubahan signifikan dalam perilaku tentara, mengingat lingkungan militer biasanya sangat menekankan pada disiplin dan kesiapan fisik tanpa mempertimbangkan penampilan estetika. Pergeseran tren ini pertama kali diungkap melalui pemberitaan media domestik Korea Selatan.
Pemicu utama meningkatnya minat operasi plastik di kalangan prajurit muda ini diduga kuat berkaitan dengan kenaikan gaji tentara yang baru-baru ini diberlakukan. Selain itu, promosi agresif dari berbagai klinik kecantikan juga turut mendorong tren ini semakin meluas di kalangan Gen Z.
Seorang komandan di unit garis depan, Letnan Kim, mengungkapkan keterkejutannya saat mendapati seorang prajurit kembali dari cuti dengan kondisi hidung yang masih membengkak pasca menjalani rhinoplasty atau operasi hidung. Hal ini menimbulkan kebingungan di jajaran komando atas mengenai prosedur yang diambil oleh prajurit tersebut.
"Saya bingung karena dia menjalani operasi hidung tanpa memberi tahu siapa pun," kata Letnan Kim mengenai ketidaktahuan komandannya atas prosedur medis yang dijalani anak buahnya.
Akibat kondisi tersebut, tentara yang bersangkutan terpaksa harus dibebastugaskan sementara waktu untuk mencegah potensi risiko komplikasi medis yang dapat terjadi di lapangan. Kasus serupa juga dilaporkan terjadi di unit militer lainnya, menunjukkan bahwa ini bukan insiden tunggal.
Di wilayah Chungcheong, seorang Letnan Dua menceritakan pengalamannya harus mencoret seorang prajurit dari jadwal jaga malam. Hal ini dilakukan karena mata prajurit tersebut masih bengkak parah akibat baru saja menjalani operasi kelopak mata.
Keterlibatan orang tua prajurit juga menjadi salah satu faktor yang memperumit situasi bagi para komandan di lapangan. Kapten Park dari Provinsi Gangwon menerima telepon dari ibu seorang tentara yang meminta anaknya dikesampingkan dari tugas fisik seperti menggali parit karena luka operasi kelopak matanya belum pulih total.
"Sulit untuk langsung mengabulkan karena bisa menjadi contoh buruk. Tapi jika terjadi sesuatu, komandan juga yang harus bertanggung jawab," katanya, menyoroti dilema yang dihadapi komandan dalam menyeimbangkan kebutuhan medis dan disiplin militer.