JAKARTA, JakartaHype.com - Fenomena “job hugging” belakangan ramai diperbincangkan di dunia kerja. Istilah ini merujuk pada kecenderungan pekerja yang memilih bertahan di pekerjaan saat ini, meski sudah tidak lagi merasa bahagia, produktif, atau berkembang.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, tren ini dinilai semakin umum, termasuk di Indonesia. Dosen Ekonomi Ketenagakerjaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), Achmad Sjafii, menyebut bahwa job hugging sebenarnya bukan fenomena baru.

“Ini fenomena lama, hanya sekarang diberi istilah baru karena kondisi ekonomi yang makin tidak pasti,” ujarnya.

Bertahan Demi Rasa Aman

Menurut Sjafii, kondisi pasar kerja yang semakin kompetitif membuat banyak pekerja berpikir ulang sebelum mengambil keputusan untuk pindah kerja. Mencari pekerjaan baru tidak mudah, sehingga rasa aman menjadi faktor utama yang membuat seseorang bertahan.

Ia menggambarkan pola pikir tersebut dengan sederhana: yang penting tetap punya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Sekarang mempertahankan pekerjaan saja sudah sulit, apalagi mencari yang baru. Jadi banyak yang memilih bertahan demi rasa aman,” jelasnya.

Fenomena ini banyak terjadi di berbagai sektor, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, di mana stabilitas ekonomi belum sepenuhnya kuat.

Dampak pada Motivasi dan Produktivitas