JAKARTAHYPE.COM - Film animasi terbaru dari Pixar, Toy Story 5, dikabarkan menjadi tontonan yang sangat memicu emosi, terutama bagi kalangan orang tua dengan anak usia sekolah. Film ini dinilai menangkap dengan tajam tantangan era digital yang dihadapi keluarga masa kini.
Inti cerita Toy Story 5 berpusat pada Bonnie, seorang anak berusia delapan tahun yang diperankan suaranya oleh Scarlett Spears. Bonnie memiliki kesulitan bersosialisasi di dunia nyata dan memilih berinteraksi melalui perangkat digital.
Menghadapi isu kecanggungan sosial anaknya, orang tua Bonnie akhirnya memutuskan membelikan tablet bernama Lilypad, yang suaranya diisi oleh Greta Lee, agar Bonnie bisa bergabung dengan permainan daring teman-teman sekelasnya. Keputusan ini memicu ketakutan baru bagi para mainan kesayangannya, termasuk Jessie (Joan Cusack) dan Buzz Lightyear (Tim Allen), yang khawatir teknologi telah membuat mereka usang.
Kekhawatiran orang tua Bonnie juga menjadi sorotan utama dalam film ini, terkait risiko paparan pelecehan daring sekaligus ketakutan anaknya menjadi terasing secara sosial. Plot ini sangat relevan mengingat perkembangan regulasi di beberapa negara mengenai penggunaan media sosial oleh anak di bawah umur.
Perkembangan signifikan ini terjadi seiring dengan pengumuman Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, mengenai rencana pelarangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun mulai Januari mendatang. Langkah ini mengikuti jejak Australia yang telah mengesahkan undang-undang serupa tahun lalu.
Komentar mengenai dampak film ini disampaikan oleh Nicholas Barber, yang menyatakan bahwa film tersebut memiliki efek yang mendalam bagi audiens dewasa. "Pixar's new cartoon, Toy Story 5, should have its own rating certificate: Not Suitable for Parents," ujar Nicholas Barber.
Barber menambahkan bahwa film ini sangat personal bagi orang tua, bahkan lebih mengganggu daripada film horor lainnya tahun ini. "Never mind Backrooms or Obsession. Toy Story 5 is the most traumatising horror film of the year – for parents, anyway," kata Nicholas Barber.
Meskipun demikian, ia mencatat bahwa secara kualitas cerita, Toy Story 5 mungkin tidak menyamai tiga film pertamanya. "Dibandingkan dengan trilogi awal yang tak tertandingi, film baru ini kekurangan lelucon lucu dan adegan yang memukau, serta diseret oleh terlalu banyak karakter dan komplikasi plot," tulis Nicholas Barber.
Salah satu aspek yang membedakan film ini adalah penempatan karakter manusia biasa sebagai fokus utama narasi. Biasanya, Pixar menggunakan entitas magis sebagai perwakilan orang tua yang stres, seperti emosi dalam Inside Out atau mainan dalam seri Toy Story sebelumnya.