JAKARTAHYPE.COM - Episode terbaru dari drama Korea 'Perfect Crown' baru-baru ini memicu perbincangan hangat di kalangan penonton setia di Korea Selatan. Drama tersebut menuai kontroversi karena penayangannya dianggap menampilkan beberapa aspek sejarah yang kurang akurat dalam penceritaannya.

Kontroversi utama berpusat pada penggunaan dialog dan detail kostum selama adegan upacara kenaikan takhta tokoh utama bernama Ian menjadi Raja. Penonton setia drama bergenre sageuk (drama sejarah) merasa ada ketidaksesuaian signifikan dengan tradisi yang dikenal.

Dilansir dari Detikcom, salah satu sorotan krusial adalah penggunaan seruan dialog 'Cheonse' alih-alih 'Manse' saat prosesi penobatan Raja Ian. Seruan 'Manse' telah umum dikenal oleh penonton sebagai bentuk dukungan tertinggi kepada penguasa dalam konteks kerajaan Korea.

Meskipun kedua istilah tersebut memiliki makna harapan kesejahteraan yang panjang bagi penguasa, konteks penggunaannya sangat berbeda. Kata 'Cheonse' berarti seribu tahun, yang biasanya diasosiasikan dengan kerajaan yang berada di bawah kekuasaan lain, seperti Tiongkok.

Sebaliknya, istilah 'Manse' berarti sepuluh ribu tahun, yang secara simbolis merupakan lambang untuk sebuah kerajaan atau negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Sorotan kedua yang menjadi perhatian publik adalah kostum yang dikenakan oleh Raja Ian pada saat upacara penobatan tersebut. Detail pakaian yang ditampilkan secara konsisten mengindikasikan bahwa kerajaan fiksi dalam 'Perfect Crown' memiliki afiliasi dengan Tiongkok, bukan sebagai entitas yang independen.

Ian terlihat mengenakan guryumyeonryugwan, yaitu jenis mahkota yang secara historis sering digunakan oleh kerajaan bawahan dalam kedinastian Tiongkok. Pakaian ini berbeda dengan shipimyeonryugwan, yang seharusnya dikenakan oleh raja dari negara yang merdeka.

Menanggapi polemik yang berkembang luas ini, Sutradara Park Joon Hwa akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Hal ini disampaikannya melalui sebuah wawancara eksklusif dengan Korea JoongAng Daily, yang diterbitkan pada Rabu (20/5/2026).

"Menurut saya, yang ingin disampaikan penulis kami adalah, jika masa lalu bangsa kita menyakitkan, termasuk Perang Korea dan periode penjajahan Jepang, tidak terjadi, bukankah kita bisa mencapai gambaran yang lebih bahagia dan indah?" katanya dilansir Rabu (20/5/2026).