JAKARTAHYPE.COM - Pernikahan, yang secara tradisional dianggap sebagai momen sakral, kini menghadapi pandangan skeptis dari generasi muda di Indonesia. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z melihat perayaan pernikahan modern lebih sebagai sebuah pertunjukan ketimbang perayaan yang bermakna.

Studi yang dilakukan oleh Talker Research untuk perusahaan teknologi keuangan Affirm melibatkan 2.000 responden Gen Z berusia 22 tahun ke atas. Hasilnya mengejutkan, di mana tujuh dari sepuluh responden (69%) merasa pernikahan saat ini terasa seperti sebuah produksi besar.

Fenomena ini muncul karena Gen Z mulai mempertanyakan ekspektasi sosial, biaya tinggi, dan tekanan yang menyertai pernikahan konvensional. Mereka tidak menolak konsep pernikahan itu sendiri, melainkan format perayaan yang dianggap terlalu berlebihan.

Ketika diminta mendeskripsikan budaya pernikahan masa kini hanya dengan satu kata, kata yang paling populer adalah 'maha'. Sebanyak 20% responden memilih kata tersebut, mengindikasikan skala acara yang dianggap terlalu besar dan mewah.

Menariknya, generasi ini sangat terbuka untuk melakukan perubahan demi efisiensi biaya dan pengurangan stres. Sebanyak 92% responden menyatakan kesediaan untuk meninggalkan beberapa tradisi pernikahan jika itu membantu menekan pengeluaran.

Bahkan, 45% dari total responden mengaku sangat terbuka untuk memangkas tradisi demi mendapatkan pernikahan yang lebih sesuai dengan kondisi finansial mereka saat ini. Hal ini menunjukkan pergeseran prioritas signifikan dari gengsi sosial.

Mayoritas Gen Z juga tidak terlalu terbebani oleh standar kemewahan yang sering ditampilkan di media sosial. Sebanyak 60% responden menegaskan bahwa mereka tidak merasa harus menyamai skala atau kemewahan pernikahan orang lain saat merencanakan hari bahagia mereka.

Claire Battista, pakar tren Gen Z di Affirm, menyoroti perubahan paradigma ini. "Budaya pernikahan telah berkembang menjadi sebuah pertunjukan besar. Kini Gen Z mulai berhenti sejenak dan bertanya, 'Bagian mana yang benar-benar penting bagi kami, dan bagian mana yang hanya kami lakukan karena merasa seharusnya begitu?'" ujar Claire Battista.

Lebih lanjut, Battista menekankan bahwa pergeseran ini bukan penolakan total terhadap perayaan ikatan suci. "Data ini menunjukkan bahwa kami tidak menolak pernikahan atau perayaan. Namun kami ingin lebih sadar dalam menentukan hal-hal yang memang layak mendapatkan waktu, energi, dan uang kami," tambahnya.