JAKARTAHYPE.COM - Misteri mengenai keberadaan 'dunia yang hilang' selalu menarik perhatian publik, terutama ketika penemuan signifikan terjadi di wilayah yurisdiksi Indonesia. Sebuah publikasi ilmiah baru-baru ini mengungkap bahwa salah satu lokasi tersebut ternyata adalah Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal ini terungkap melalui penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi, Proceedings of the Royal Society B. Para ilmuwan mengumumkan temuan mengejutkan bahwa Sumba pernah menjadi rumah bagi ekosistem unik yang kini telah banyak menghilang dari muka bumi.

Pulau Sumba diyakini sebagai habitat bagi beragam spesies hewan yang telah punah sejak ribuan tahun silam. Beberapa fauna purba yang fosilnya ditemukan di sana termasuk spesies gajah mini, jenis tikus purba, kadal raksasa, hingga leluhur komodo.

Berdasarkan analisis mendalam terhadap artefak fosil yang berhasil dikumpulkan, spesies-spesies langka tersebut diperkirakan hidup di Sumba sekitar kurun waktu 12.000 tahun yang lalu. Temuan ini menunjukkan adanya sejarah evolusi yang kaya di kepulauan tersebut.

Penelitian tersebut juga menghasilkan kesimpulan serius bahwa beberapa hewan yang kini dikategorikan langka mungkin awalnya berbiak di wilayah Sumba sebelum berpindah atau punah di tempat lain. Dilansir dari Mongabay, Minggu (26/4/2026), penemuan fosil komodo di Sumba sangat memperkuat asumsi ini.

Penemuan fosil komodo menjadi titik penting, mengingat saat ini komodo hanya mendiami Pulau Komodo dan beberapa area terdekat. Hal ini memicu dugaan bahwa Sumba adalah titik asal usul penyebaran komodo sebelum populasinya terkonsentrasi di lokasi saat ini.

Ekspedisi ilmiah untuk meneliti fauna punah di Sumba telah dilaksanakan oleh tim peneliti dari Zoological Society of London (ZSL) antara tahun 2011 hingga 2014. Mereka fokus mengumpulkan fosil sebagai bagian dari wilayah biogeografi yang dikenal sebagai 'Wallacea'.

Wilayah Wallacea, yang mencakup Sumba, Sulawesi, Lombok, Flores, Halmahera, Buru, dan Seram, dinamai berdasarkan ahli biologi Alfred Russel Wallace. Wallace pada abad ke-19 menetapkan batasan wilayah ini berdasarkan pola penyebaran spesies hewan di Nusantara.

Popularitas Wallacea meningkat drastis pada tahun 2004 menyusul penemuan fosil makhluk purba yang dijuluki 'hobbit' atau Homo floresiensis di Flores, yang lokasinya berdekatan dengan Sumba di bagian utara.