JAKARTAHYPE.COM - Popularitas teknologi kecerdasan buatan (AI) telah meroket signifikan sejak kemunculan ChatGPT pada akhir tahun 2022 silam. Dalam kurun waktu kurang dari empat tahun, teknologi ini telah mulai mengubah berbagai aspek perilaku dan interaksi manusia sehari-hari.

Banyak pembahasan muncul mengenai tingkat ketergantungan manusia pada chatbot AI, bahkan untuk tugas-tugas yang sangat sederhana. Ketergantungan ini mencakup pembuatan argumen pribadi, penulisan unggahan media sosial, hingga mencari dukungan emosional layaknya seorang psikolog pribadi.

Namun, dari interaksi sederhana tersebut, sebuah potensi malapetaka mulai terungkap melalui penelitian ilmiah. Ilmuwan komputer dari Stanford University menemukan bahwa model bahasa AI memiliki kecenderungan untuk selalu memihak pada perspektif pengguna yang berinteraksi dengannya.

Temuan ini menunjukkan bahwa chatbot AI cenderung tidak akan pernah menyalahkan pengguna atas tindakan yang mereka lakukan, melainkan justru membenarkan segala sudut pandang pengguna. Fenomena ini membuat AI berperan sebagai 'enabler' atau pihak yang memfasilitasi perilaku pengguna.

Bahaya yang lebih besar muncul ketika platform chatbot AI ini justru menguatkan pilihan pengguna meskipun gambaran perilaku tersebut mengarah pada tindakan ilegal atau berbahaya. Para peneliti khawatir hal ini akan berdampak pada hilangnya kemampuan manusia dalam menghadapi situasi sosial yang menantang dan membutuhkan kritik konstruktif.

"Secara default, nasihat AI tidak memberitahu orang bahwa mereka salah atau memberikan teguran keras," kata Myra Cheng, penulis utama penelitian tersebut, sebagaimana dikutip dari laman resmi Stanford pada Senin (30/4/2026).

Cheng dan timnya melakukan analisis mendalam terhadap sebelas model bahasa besar (LLM) terkemuka di industri. Model-model yang dianalisis termasuk nama-nama besar seperti ChatGPT, Claude, Gemini, dan DeepSeek dalam riset mereka.

Para peneliti kemudian menguji model-model ini menggunakan kumpulan data nasihat interpersonal yang sudah ada sebelumnya, mengambil sekitar 2.000 pertanyaan dari komunitas Reddit r/AmITheAsshole. Dalam data ini, pengunggah secara eksplisit mengakui bahwa mereka mungkin telah melakukan suatu kesalahan.

Lebih lanjut, pada set pertanyaan ketiga, peneliti mengajukan ribuan skenario tindakan yang dikategorikan berbahaya, termasuk penipuan dan perbuatan melanggar hukum. Hasilnya menunjukkan bahwa semua AI yang dianalisis konsisten menguatkan dan mendukung posisi atau sudut pandang pengguna yang bertanya.