Jakarta, JakartaHype.com - Meski dikenal sebagai generasi yang paling vokal menyuarakan isu kesehatan mental, generasi Z (Gen Z) ternyata memikul beban psikologis yang unik dan sering kali tidak terlihat. Tekanan-tekanan ini muncul dari kebiasaan yang dianggap normal, namun jika dibiarkan, dapat memicu kelelahan emosional kronis.

Melansir data dari Your Tango, terdapat lima faktor utama yang diam-diam menjadi beban pikiran bagi generasi yang lahir di era digital ini.

1. Jebakan Standar Ganda di Media Sosial


Bagi Gen Z, media sosial adalah pedang bermata dua. Di satu sisi menjadi ruang berekspresi, di sisi lain menjadi pemicu rasa rendah diri. Paparan konstan terhadap gaya hidup mewah dan standar kecantikan yang tidak realistis membuat individu tanpa sadar melakukan komparasi sosial. Perasaan "tidak cukup" ini sering muncul meski seseorang telah mengusahakan yang terbaik dalam hidupnya.

2. Kecemasan Akibat Fenomena FOMO


Peneliti psikologi, Liz Stillwaggon Swan, menyoroti bahwa Fear of Missing Out (FOMO) adalah mesin utama kecemasan Gen Z. Adanya dorongan untuk selalu relevan dengan tren terbaru atau harus selalu hadir dalam setiap kegiatan sosial menciptakan tekanan batin. Padahal, apa yang tampak di layar hanyalah kurasi kecil yang tidak mencerminkan realitas kehidupan yang utuh.

3. Tingginya Angka Social Anxiety


Berdasarkan laporan National Social Anxiety Center, perubahan pola interaksi pasca-pandemi telah memperlebar jarak kenyamanan bersosialisasi. Banyak anggota Gen Z mengalami kecemasan sosial atau rasa canggung saat harus berinteraksi langsung di dunia nyata. Beban ini kian berat karena adanya stigma atau ketakutan dianggap lemah jika mereka mengakui kesulitan tersebut.

4. Krisis Identitas di Dunia Kerja (The Great Scattering)


Memasuki dunia kerja profesional dengan sistem rutinitas yang kaku sering kali memicu guncangan budaya bagi Gen Z. Pakar pengembangan diri, Mel Robbins, menyebut fenomena ini sebagai "The Great Scattering". Ini adalah fase di mana individu merasa kehilangan arah dan tujuan hidup akibat ekspektasi dunia kerja yang berat serta rutinitas yang menguras energi.

5. Kesenjangan Nilai Antar Generasi

Gen Z memiliki standar tinggi terkait batasan diri (boundaries) dan keseimbangan hidup (work-life balance). Namun, nilai-nilai ini sering kali berbenturan dengan generasi pendahulu yang memiliki perspektif berbeda. Akibatnya, muncul konflik di lingkungan keluarga maupun profesional yang membuat Gen Z merasa tidak dipahami atau terisolasi secara emosional.