JAKARTAHYPE.COM - Fenomena warteg yang tampil 'fancy' kini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial Indonesia. Restoran bernama Salira, yang berada di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, menjadi pusat perhatian karena mengusung konsep warteg premium.
Unit terbaru dari Union Group ini memamerkan etalase kaca yang bisa dibuka tutup menggunakan gorden vitrase elegan. Konsep ini menawarkan pengunjung untuk memilih lauk-pauk rumahan khas Nusantara secara langsung, layaknya warteg tradisional.
Perbedaan mencolok antara Salira dan warteg konvensional terletak pada aspek harga yang jauh lebih tinggi dan suasana restoran yang terasa eksklusif. Konten mengenai Salira telah ditonton ribuan kali di TikTok, memicu beragam reaksi dari warganet.
Banyak yang penasaran untuk mencoba pengalaman bersantap di warteg mewah ini, sementara sebagian lainnya, yang dijuluki kaum 'mendang-mending', mengkritik keras mahalnya harga yang ditawarkan. CNBC Indonesia mencoba langsung suasana di Salira pada Kamis (9/4/2026) dan mendapati antrean panjang.
Situasi daftar tunggu (waiting list) ini sangat kontras dengan pengalaman makan di warteg pada umumnya yang jarang terjadi. Demografi pengunjung pun tampak berbeda, didominasi oleh kalangan atas yang membawa tas-tas bermerek ternama seperti Louis Vuitton dan Chanel.
Salah satu pengunjung berinisial D (50 tahun) yang ditemui saat menunggu panggilan resepsionis, mengaku datang karena terpengaruh oleh konten di FYP media sosial. "Orang kan jadi FOMO (fear of missing out) pingin tahu, pingin lihat ini gimana sih, apalagi ini kan Union Group," ujar D.
D kemudian mengungkapkan keraguannya mengenai label 'warteg' untuk tempat tersebut, mengingat perbedaan substansial dalam rasa dan harga. "Tapi kalau mau dibilang ini seperti warteg, menurutku sih nggak nyampe. Untuk rasa, masih lebih enak masakanku. Ibu kita lebih jago masak, kalau dengan harga yang begitu ya, karena ini pricey," kata D kepada CNBC Indonesia.
Peneliti Budaya Popular, Hikmat Darmawan, menyoroti bagaimana media sosial mempercepat budaya FOMO dalam masyarakat. Menurutnya, elemen kunci dari FOMO adalah kebutuhan untuk memamerkan pengalaman di ranah digital.
Hikmat mengutip teori dari buku Claire Bishop, Disordered Attention: How We Look at Art and Performance Today [2024], mengenai munculnya 'ekonomi perhatian'. "Begitu ada media sosial, memang orang lebih banyak berbicara soal ekonomi perhatian, di mana nilai ekonomi bukan hanya pada pembelian barang, tetapi kepada jumlah perhatian," kata Hikmat melalui saluran telepon.