JAKARTAHYPE.COM - Industri modest fashion dan kecantikan di Indonesia terus berkembang pesat, melahirkan berbagai tren baru setiap saat. Namun, di tengah arus perubahan ini, tidak banyak kreator yang mampu mempertahankan identitas unik mereka.

Fira Assegaf, yang dikenal luas dengan nama panggung Sashfir, menjadi salah satu pionir yang berhasil membuktikan bahwa konsistensi dan karakter yang kuat adalah kunci utama. Hal ini terbukti dalam pembangunan personal branding serta pengembangan lini busananya, Lafiye.

Bagi Sashfir, rahasia utama untuk tetap percaya diri dan bersinar dalam industri kreatif bukanlah sekadar mengikuti tren tercepat. Melainkan, keberanian untuk tetap setia pada kepribadian diri sendiri menjadi pondasi utamanya.

"Jujur terhadap diri sendiri, walaupun tren datang itu kalau kita bisa mengolah dan apakah itu sesuai dengan diri kita itu akan terasa lebih jujur. Jadi apa adanya saja. Jujur dan konsisten itu yang bikin autentik," ungkap Sashfir saat ditemui di acara Wardah Colour Circuit, Precision in Beauty for the Authentic You, di Nirmala Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan, pada 24 Juli 2026.

Sashfir menambahkan bahwa proses mengenal diri sendiri membantunya menemukan warna yang paling cocok. Ia mengaku terbantu melalui analisis warna pribadi.

"Aku bisa lebih mengetahui salah satunya itu lewat personal color, aku jadi tahu ternyata aku cocoknya dengan warna pastel. Aku lebih mengenal diri aku sendiri," jelas Sashfir.

Proses mendalam untuk memahami diri ini sangat membantunya menyaring gaya yang benar-benar mewakili dirinya dari sekadar tren sesaat. Oleh karena itu, ia selalu menerapkan filter pribadi saat dihadapkan pada tren kecantikan atau busana yang sedang viral.

"Selalu ada tren, aku sendiri tidak terlalu mengikuti dan aku akan mengolah, apakah ini aku banget? Ketika tren datang, aku bisa mengetahui dan pilih dulu, apakah cocok dengan aku?" ujarnya.

Di balik penampilannya yang selalu terlihat tenang dan penuh percaya diri, Sashfir tidak menampik kemungkinan munculnya rasa cemas atau ketidakpercayaan diri. Namun, alih-alih membiarkan perasaan tersebut menghambat, ia memilih untuk mengubah sudut pandang. Ia menjadikan pengalaman orang-orang terdekat sebagai sumber pembelajaran.