JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan terbaru menunjukkan tekanan yang masih kuat pada nilai tukar Rupiah di hadapan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini mencapai titik krusial menjelang penutupan perdagangan pada hari Rabu, tanggal 3 Juni.
Kondisi ini membuat mata uang Paman Sam semakin mendekati batas psikologis yang signifikan, yaitu level Rp 18.000 per dolar AS. Pergerakan ini menjadi perhatian serius bagi stabilitas ekonomi domestik.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg, Dolar AS berhasil menguat cukup tajam sebesar 0,71% pada akhir sesi perdagangan hari tersebut. Penguatan ini membawa kurs berada di level Rp 17.966,5.
Pergerakan Rupiah yang melemah ini terlihat jelas jika membandingkan dengan pembukaan perdagangan di pagi hari. Pada awal hari, Dolar AS tercatat berada di posisi Rp 17.863,5 sebelum terus menanjak nilainya.
Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, Dolar AS telah membukukan penguatan signifikan versus mata uang Garuda. Tercatat, mata uang AS ini telah menguat hingga mencapai 7,71% terhadap Rupiah.
Situasi pelemahan nilai tukar Rupiah ini diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat. Analis memperkirakan tekanan terhadap mata uang domestik akan berlanjut pada sesi perdagangan hari berikutnya.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut pada perdagangan hari Kamis, tanggal 4 Juni. Para pelaku pasar diminta untuk bersiap menghadapi volatilitas lebih lanjut.
Dikutip dari data yang tersedia, "Dolar AS telah menguat hingga 0,71% ke level Rp 17.966,5 di penutupan perdagangan hari ini," mengonfirmasi laju apresiasi mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Lebih lanjut, data historis menunjukkan bahwa "Sepanjang 2026, dolar AS sudah menguat hingga 7,71% terhadap rupiah," yang menggarisbawahi tren depresiasi yang berkelanjutan bagi mata uang Indonesia.