JAKARTAHYPE.COM - Persepsi umum bahwa olahraga lari harus selalu identik dengan kelelahan ekstrem dan napas yang terengah-engah kini mulai mengalami pergeseran signifikan di Korea Selatan. Tren olahraga baru yang sedang populer dan menjadi perbincangan hangat adalah 'slow jogging'.
Slow jogging, sesuai namanya, merupakan teknik berlari dengan kecepatan yang sangat minim, memungkinkan pelakunya tetap dapat bercakap-cakap santai atau tertawa dengan rekan di sampingnya. Aktivitas ini menawarkan pengalaman berolahraga yang lebih menyenangkan dan tidak membebani secara fisik.
Secara teknis, kecepatan yang diterapkan dalam slow jogging berkisar antara 3 hingga 5 kilometer per jam (km/jam). Kecepatan ini hampir setara, atau hanya sedikit lebih cepat, dibandingkan dengan ritme jalan kaki santai yang biasa dilakukan masyarakat.
Fakta menarik muncul dari riset medis yang menunjukkan bahwa gerakan lari perlahan ini justru mampu menghasilkan pembakaran energi yang jauh lebih besar. Hal ini disebabkan oleh mekanisme kerja otot selama melakukan aktivitas tersebut.
Saat berlari dengan tempo lambat, otot-otot besar pada tubuh, seperti paha depan (quadriceps), otot bokong, dan punggung bagian bawah, akan bekerja secara konstan dan stabil. Aktivitas otot yang berkelanjutan ini menjadi kunci efektivitasnya.
Akibat dari aktivasi otot yang optimal tersebut, pengeluaran energi dan pembakaran kalori dari slow jogging diklaim mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan berjalan kaki biasa. Oleh karena itu, olahraga ini dianggap solusi menyenangkan bagi mereka yang ingin memangkas lemak.
Metode olahraga yang kini viral ini sebenarnya bukanlah penemuan baru, melainkan hasil riset mendalam selama lebih dari empat dekade. Metode ini dikembangkan oleh mendiang Profesor Hiroaki Tanaka dari Departemen Ilmu Olahraga Universitas Fukuoka, Jepang.
Popularitas gerakan ini mulai meluas secara internasional setelah disiarkan oleh stasiun televisi NHK di Jepang pada tahun 2009. Penayangan tersebut menjadi momen penting yang memperkenalkan konsep lari santai ini ke khalayak yang lebih luas.
Langkah signifikan penyebarannya di Korea Selatan dimulai pada tahun 2015, ketika perwakilan dari negara tersebut, Jung Ra-hye, melakukan perjalanan ke Jepang. Ia secara langsung mengadopsi teknik serta metode pengajaran dari Profesor Hiroaki Tanaka.