JAKARTAHYPE.COM - Penyanyi internasional Dua Lipa dan aktor Callum Turner baru-baru ini menggelar perayaan lanjutan pernikahan mereka di Sisilia, Italia, setelah sebelumnya resmi mendaftarkan hubungan di catatan sipil. Acara yang diprediksi akan berlangsung mewah ini ternyata menimbulkan ketidaknyamanan signifikan bagi penduduk setempat.
Perayaan cinta yang direncanakan berlangsung selama tiga hari tersebut diketahui telah menyebabkan kelumpuhan sementara di beberapa area kota di Sisilia, memicu reaksi keras dari warga lokal. Pihak penyelenggara dilaporkan memerlukan pengamanan ekstra ketat untuk menjaga jalannya acara.
Pengamanan tersebut mencakup penutupan sejumlah ruang publik vital, termasuk Piazza Sant'Anna dan Piazza Croce dei Vespri, yang harus steril dari aktivitas warga selama akhir pekan berlangsung. Penutupan fasilitas umum ini menjadi salah satu sumber utama keresahan masyarakat.
Dilansir dari Daily Mail, petugas kepolisian dikerahkan untuk mengamankan area di sekitar Palazzo Valguarnera-Gangi di Palermo, lokasi yang diduga kuat menjadi tempat resepsi koktail mewah pasangan tersebut pada hari Jumat. Selain itu, pembatasan akses juga diberlakukan secara ketat.
Berbagai regulasi ketat diterapkan selama acara berlangsung, di mana jalanan ditutup total, zona larangan penggunaan drone diberlakukan, dan warga setempat diminta menandatangani perjanjian kerahasiaan terkait acara tersebut menurut The Sun. Semua langkah ini diambil demi kelancaran perayaan selebriti tersebut.
Sebagai bentuk protes atas ketidaknyamanan yang dialami, sebagian warga setempat memasang puluhan poster berisi kritik tajam di sekitar alun-alun kota. Poster-poster tersebut ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Italia, sebagai bentuk ekspresi kekecewaan publik.
Beberapa pesan yang tertulis pada poster tersebut menyuarakan penolakan keras terhadap penggunaan ruang publik untuk acara privat. Terdapat tulisan seperti "Palermo bukan untuk disewa," "Alun-alun kami bukan ruang tamu kalian," dan "Palermo bukan untuk orang kaya," bunyi beberapa poster protes tersebut.
Upaya pembersihan dan perobekan spanduk protes sempat dilakukan oleh pihak penyelenggara pernikahan. Namun, para pengunjuk rasa membalas dengan cara yang lebih permanen, yaitu dengan menuliskan kembali kalimat protes yang sama menggunakan grafiti pada dinding pada Jumat pagi.
Seorang warga bernama Clarissa mengungkapkan dampak langsung dari penutupan tersebut terhadap rutinitas hariannya. "Misalnya, selama tiga hari kami terpaksa parkir bermil-mil jauhnya dan berjalan kaki ke tempat kerja," ujar Clarissa.