JAKARTAHYPE.COM - Makanan manis seperti es krim, kue, dan permen seringkali diasosiasikan dengan ancaman utama munculnya gigi berlubang karena kandungan gulanya yang tinggi. Hal ini menjadi perhatian umum bagi banyak orang terkait kesehatan oral harian mereka.
Namun, muncul sebuah pandangan yang populer bahwa mengonsumsi keju setelah menyantap makanan manis dapat memberikan perlindungan tambahan bagi kesehatan gigi. Pertanyaan besar pun muncul mengenai validitas dari klaim populer ini.
Mengapa anggapan ini bisa muncul? Keyakinan ini didukung oleh serangkaian temuan ilmiah yang telah dilakukan oleh berbagai institusi penelitian. Temuan tersebut mencoba mengurai mekanisme perlindungan yang mungkin ditawarkan oleh produk olahan susu ini.
Penelitian menunjukkan bahwa keju memiliki kemampuan untuk merangsang produksi air liur di dalam rongga mulut. Peningkatan air liur ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sisa makanan dan menyeimbangkan lingkungan mulut.
Lebih lanjut, konsumsi keju terbukti mampu meningkatkan tingkat pH di dalam mulut setelah terpapar asam dari makanan manis. Peningkatan pH ini sangat penting karena dapat mengurangi risiko kerusakan struktural pada gigi.
Kondisi mulut yang lebih basa atau netral (peningkatan pH) dinilai mampu memitigasi dampak negatif asam yang merupakan penyebab utama erosi enamel gigi. Proses ini bekerja sebagai pertahanan awal terhadap pembentukan lubang gigi.
Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa keju bukanlah solusi ajaib atau pengganti mutlak untuk kebiasaan baik menjaga kebersihan gigi. Fungsi perlindungan yang ditawarkan memiliki batasan tertentu.
"Anggapan ini bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keju dapat merangsang produksi air liur dan membantu meningkatkan pH di dalam mulut, kondisi yang dinilai dapat mengurangi risiko kerusakan gigi akibat paparan asam setelah makan makanan manis," demikian disampaikan oleh para peneliti yang dikutip dari hasil studi tersebut.
Selain manfaatnya bagi gigi, para ahli juga mengingatkan bahwa keju merupakan yang juga mengandung kalori signifikan. Oleh karena itu, jumlah konsumsinya perlu diperhitungkan dengan cermat dalam konteks pola makan seimbang sehari-hari.
Sumber: nutrisi