JAKARTAHYPE.COM - Fenomena matcha kini menjamur di berbagai kedai kopi kekinian di Indonesia, mulai dari varian latte, teh murni, hingga sajian penutup. Minuman berbasis bubuk teh hijau asal Jepang ini telah dinobatkan sebagai salah satu pilihan gaya hidup sehat yang digandrungi oleh Generasi Z saat ini.
Secara mendasar, matcha berasal dari tanaman teh yang sama, yaitu Camellia sinensis, seperti teh hijau pada umumnya. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam proses budidaya yang membuat profil nutrisi matcha jauh lebih unggul dan istimewa.
Proses budidaya unik ini melibatkan petani yang secara sengaja menutupi tanaman teh dari paparan sinar matahari langsung selama periode pertumbuhan yang panjang. Praktik peneduhan ini memicu peningkatan dramatis pada produksi klorofil, mendongkrak kadar asam amino, sekaligus menghasilkan warna hijau yang lebih pekat pada daunnya.
Setelah masa panen tiba, batang dan urat daun akan dibuang seluruhnya, menyisakan daunnya saja yang kemudian digiling hingga menjadi bubuk halus. Karena dikonsumsi dalam bentuk bubuk utuh, matcha menjamin bahwa seluruh nutrisi dari daun teh, termasuk antioksidan dan kafein, terserap secara maksimal oleh tubuh.
Di balik popularitasnya yang tinggi di kalangan anak muda, sejumlah kajian ilmiah telah menggarisbawahi manfaat kesehatan yang luar biasa dari konsumsi matcha. Manfaat ini mencakup peningkatan fungsi kognitif hingga perlindungan organ vital tubuh.
Matcha dikenal sangat kaya akan senyawa katekin, sekelompok antioksidan alami yang berfungsi menstabilkan radikal bebas pemicu kerusakan sel dan penyakit kronis. Dikutip dari Healthline, meskipun kadar katekin sempat menurun saat proses peneduhan, ketika bubuk matcha dilarutkan, ia justru menghasilkan antioksidan tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan teh hijau biasa.
Bagi Gen Z yang membutuhkan konsentrasi tinggi untuk aktivitas akademik maupun profesional, matcha menawarkan solusi asupan yang menjanjikan. Riset yang melibatkan 23 partisipan yang mengonsumsi 4 gram matcha menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam aspek perhatian, kecepatan reaksi, serta daya ingat mereka.
Salah satu daya tarik utama matcha adalah kandungan kafeinnya yang lebih tinggi (mencapai 19-44 mg/g) dibandingkan teh hijau konvensional (11-25 mg/g). Selain itu, matcha mengandung L-theanine, senyawa yang memodulasi efek kafein, sehingga mampu memicu kewaspadaan tanpa menyebabkan penurunan energi mendadak atau energy crash.
Teh hijau secara umum sudah lama dikenal memiliki peran dalam manajemen berat badan. Sebuah tinjauan ilmiah menemukan bahwa konsumsi teh hijau sekitar 500 mg per hari selama 12 minggu, yang dikombinasikan dengan diet dan olahraga teratur, terbukti efektif menurunkan Indeks Massa Tubuh (IMT).