JAKARTAHYPE.COM - Piala Dunia 2026 kembali menyajikan banyak momen menarik yang menjadi sorotan publik, tidak hanya terkait strategi permainan atau gol yang tercipta di lapangan hijau. Salah satu kebiasaan atlet yang sering memicu rasa ingin tahu penonton adalah ketika pemain tampak menyemburkan kembali air yang baru saja mereka minum.

Hal ini kerap menimbulkan pertanyaan, mengingat intensitas pertandingan yang tinggi dan kondisi cuaca yang panas seharusnya membuat pemain lebih memilih menelan cairan untuk hidrasi optimal. Mengapa mereka justru memilih untuk memuntahkannya kembali setelah berkumur sesaat?

Kebiasaan unik ini, di mana atlet berkumur dengan cairan tertentu lalu membuangnya, memiliki istilah medis dan tujuan performa yang jelas dalam dunia olahraga profesional. Praktik ini bukan sekadar iseng, melainkan bagian dari strategi peningkatan energi selama bertanding.

Dokter spesialis kedokteran olahraga (SpKO) memberikan penjelasan ilmiah mengenai fenomena yang terlihat kontras ini. Menurutnya, tindakan menyemburkan cairan setelah berkumur memiliki nama teknis yang merujuk pada fungsinya.

"Kebiasaan berkumur-kumur dan memuntahkan kembali cairannya dinamakan carbohydrate mouth rinse," ujar dr Andhika Raspati, SpKO.

Praktik carbohydrate mouth rinse ini dilakukan untuk memberikan sinyal cepat kepada otak mengenai asupan energi yang tersedia, meski cairan tersebut tidak benar-benar masuk ke sistem pencernaan. Hal ini sangat penting untuk menjaga fokus dan intensitas permainan.

Meskipun tujuan utama asupan cairan adalah hidrasi dan kesegaran, dalam konteks ini, tujuan utamanya beralih menjadi stimulasi reseptor rasa manis di mulut. Reseptor ini kemudian mengirimkan sinyal ke pusat kendali tubuh mengenai ketersediaan karbohidrat.

Dilansir dari sumber berita yang meliput momen Piala Dunia 2026, kebiasaan ini menunjukkan bagaimana atlet mencari cara inovatif untuk memaksimalkan durasi energi mereka tanpa harus mengganggu perut dengan asupan makanan atau minuman yang terlalu banyak saat berlari.

Fenomena ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana ilmu kedokteran olahraga diterapkan secara praktis di lapangan untuk mempertahankan performa puncak para pesepakbola selama 90 menit atau lebih.