JAKARTAHYPE.COM - Hajar Aswad merupakan simbol suci dalam dunia Islam yang diyakini berasal dari surga sejak masa Nabi Ibrahim. Keberadaannya di sudut Kakbah selalu menarik perhatian jutaan umat manusia yang datang untuk beribadah setiap tahunnya.
Namun, di balik nilai spiritualnya yang tinggi, para ilmuwan terus berusaha membedah asal-usul batu hitam ini melalui kacamata sains. Upaya ini dilakukan dengan mengategorikan jenis batuan serta menelusuri proses pembentukannya secara mendalam, dilansir dari CNBC Indonesia.
Sebagian besar peneliti memiliki hipotesis bahwa Hajar Aswad merupakan sebuah meteorit atau batu yang jatuh dari luar angkasa. Teori ini muncul untuk menjembatani keyakinan umat Islam mengenai asal-usul batu tersebut yang disebut tidak berasal dari bumi.
Salah satu bukti pendukung yang sering dikaji adalah temuan peneliti bernama Philby pada tahun 1932 di wilayah Al-Hadidah. Ia menemukan sebuah kawah tumbukan meteor raksasa yang kemudian dikenal luas dengan nama Wabar.
"Kawah tersebut memiliki ukuran diameter lebih dari 100 meter, di mana pecahan-pecahannya tersebar luas di sekitar area kawah dan padang pasir," ujar E. Thomsen.
Secara fisik, pecahan batuan di lokasi tersebut terbentuk dari lelehan pasir dan silika yang bercampur dengan unsur nikel. Perpaduan material ini menciptakan struktur unik dengan bagian dalam yang memiliki warna berbeda dengan kulit luarnya.
"Campuran zat kimia tersebut akan memunculkan warna putih pada lapisan bagian dalam, sementara bagian luarnya terbungkus oleh cangkang berwarna hitam pekat," kata E. Thomsen.
Warna hitam yang mendominasi batuan tersebut muncul akibat reaksi ledakan nikel serta ferum atau besi saat berada di ruang angkasa. Hal ini memberikan penjelasan logis secara kimiawi mengapa batuan tersebut tampak sangat gelap di permukaan.
"Ciri-ciri fisik dari pecahan meteorit di lokasi tersebut sangat sesuai dengan gambaran visual Hajar Aswad yang kita kenal sekarang," tutur E. Thomsen.