Jakarta, JakartaHype.com - Menjalankan ibadah puasa berarti membiarkan tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama lebih dari 12 jam.
Dalam durasi yang panjang tersebut, pengaturan waktu makan dan kualitas gizi menjadi faktor penentu stamina seseorang. Salah satu yang sering menjadi perdebatan adalah kebiasaan melewatkan sahur.
Lantas, amankah bagi kesehatan jika kita berpuasa tanpa makan sahur?
Dampak Langsung pada Energi dan Konsentrasi
Secara medis, berpuasa tanpa sahur sebenarnya masih dapat dilakukan oleh individu yang sehat. Namun, para ahli gizi memperingatkan adanya konsekuensi fisik yang harus ditanggung. Tanpa ashur, tubuh dipaksa mengandalkan cadangan energi dari sisa makan malam yang cenderung lebih cepat habis.
"Melewatkan sahur berarti tubuh kehilangan modal energi harian. Akibatnya, seseorang akan lebih mudah merasa lemas, pusing, hingga sulit berkonsentrasi saat beraktivitas di siang hari," tulis laporan kesehatan terkait metabolisme saat puasa.
Selain faktor energi, risiko dehidrasi ringan juga mengintai. Tanpa asupan cairan di waktu subuh, cadangan air dalam tubuh menjadi sangat terbatas, terutama jika aktivitas fisik tetap tinggi.
Peran Krusial Sahur sebagai "Bahan Bakar"
Dari sisi gizi, sahur berfungsi sebagai fondasi untuk menjaga stabilitas metabolisme selama 12 hingga 14 jam. Berikut adalah peran utama sahur bagi tubuh: