JAKARTAHYPE.COM - Tren puasa mutih, sebuah praktik tirakat yang berasal dari tradisi Jawa, kini kembali mencuri perhatian publik, khususnya di ranah media sosial. Praktik ini dikenal dengan pola makan yang sangat terbatas, umumnya hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih saja.
Secara budaya, puasa mutih seringkali dijalankan sebagai bagian dari persiapan spiritual, seperti menjernihkan pikiran atau sebagai ritual menjelang momen penting dalam hidup, misalnya pernikahan.
Namun, belakangan puasa mutih juga mulai disorot dari perspektif kesehatan, dikaitkan dengan manfaat detoksifikasi hingga penurunan bobot badan. Hal ini memicu pertanyaan mengenai efek sebenarnya bagi tubuh jika dilakukan tanpa pemahaman nutrisi yang memadai.
Puasa mutih sejatinya bukanlah sebuah metode diet modern yang direkomendasikan ahli gizi, melainkan sebuah tradisi budaya yang mengalami lonjakan popularitas. Meskipun pola makan ekstrem ini dapat memberikan efek singkat, ada potensi risiko kesehatan jika durasinya terlalu panjang.
Dari segi kesehatan, asupan makanan yang sangat sederhana ini terbukti dapat meringankan beban kerja sistem pencernaan. Banyak praktisi merasakan kenyamanan karena tubuh tidak perlu memproses makanan berat yang tinggi lemak, gula, atau garam.
Karena pembatasan kalori yang ekstrem, tubuh akan mengalami defisit energi, yang secara otomatis dapat mengakibatkan penurunan berat badan dalam waktu singkat, meskipun efek ini umumnya hanya bersifat sementara.
Aspek psikologis juga menjadi perhatian, di mana niat kuat yang menyertai puasa mutih dapat memberikan efek ketenangan dan meningkatkan fokus, terutama ketika dijalankan sebagai bentuk refleksi diri.
Selain itu, membatasi pola makan secara ketat merupakan tantangan mental yang dapat melatih konsistensi, kesabaran, dan kontrol diri yang lebih baik.
Akan tetapi, risiko kesehatan perlu dicermati karena nasi putih hampir seluruhnya hanya menyediakan karbohidrat, tanpa adanya protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral esensial lainnya.