JAKARTAHYPE.COM - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memberikan pandangan bahwa gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di tanah air belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Lembaga penelitian ekonomi tersebut memperkirakan bahwa pada semester kedua tahun ini, akan ada tambahan potensi kehilangan pekerjaan bagi pekerja dalam rentang 15 ribu hingga lebih dari 20 ribu orang.
Estimasi ini merupakan hasil dari riset terbaru yang dilakukan oleh CORE Indonesia dengan judul 'Badai PHK (Belum) Berlalu', yang disusun oleh beberapa peneliti mereka.
"Akan ada potensi tambahan PHK sebanyak 15,3 sampai 20,3 ribu pekerja," demikian temuan yang disampaikan oleh CORE, sebagaimana dikutip pada Jumat (29/5).
Riset tersebut mengidentifikasi bahwa sektor manufaktur diprediksi akan menjadi area dengan potensi PHK terbesar dibandingkan sektor lainnya di Indonesia.
Selain manufaktur, sektor jasa dan sektor pertanian juga disebut akan mengalami dampak signifikan dari potensi pemutusan hubungan kerja tersebut di periode mendatang.
Rincian potensi PHK menunjukkan bahwa sektor manufaktur diperkirakan akan kehilangan sekitar 8,7 hingga 12,1 ribu pekerja, sementara jasa sekitar 3,3 hingga 4,5 ribu pekerja.
"PHK terbesar kemungkinan akan terjadi di sektor manufaktur dengan jumlah kurang lebih mencapai 8,7-12,1 ribu pekerja, sektor jasa 3,3-4,5 ribu pekerja, dan di sektor pertanian mencapai 3,3-3,6 ribu pekerja," bunyi temuan dalam riset tersebut.
Penyebab utama dari potensi PHK ini bersumber dari berbagai sentimen negatif, baik yang berasal dari dinamika domestik maupun perkembangan global terkini.