JAKARTA, JakartaHype.com - Seorang profesor hukum terkemuka di Amerika Serikat, Jonathan Turley, memperingatkan publik mengenai bahaya disinformasi setelah ChatGPT secara keliru menuduhnya melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswa. Insiden ini memicu kekhawatiran baru mengenai potensi ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap reputasi seseorang.
Turley, yang merupakan pengajar hukum di George Washington University, mengungkapkan bahwa klaim palsu tersebut ditemukan setelah profesor hukum dari UCLA, Eugene Volokh, melakukan riset menggunakan ChatGPT. Volokh meminta AI tersebut untuk memberikan lima contoh pelecehan seksual oleh profesor di sekolah hukum Amerika, lengkap dengan kutipan dari artikel surat kabar yang relevan.
Dalam jawabannya, ChatGPT menyertakan sebuah insiden tahun 2018 yang diklaim terjadi di Georgetown University Law Center. AI tersebut menuduh Turley melakukan pelecehan terhadap seorang mahasiswa dalam perjalanan sekolah ke Alaska. ChatGPT bahkan mengutip artikel palsu dari The Washington Post yang menyatakan bahwa Turley melontarkan komentar sugestif dan mencoba menyentuh mahasiswa tersebut secara seksual.
Menanggapi hal ini, Turley dengan tegas membantah semua poin dalam narasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah mengajar di Georgetown University, tidak pernah melakukan perjalanan ke Alaska bersama mahasiswa selama 35 tahun berkarier, dan tidak pernah ada artikel Washington Post seperti yang dikutip oleh ChatGPT.
"Ini sangat ironis karena selama ini saya menulis tentang bahaya AI terhadap kebebasan berbicara. AI menciptakan tuduhan di sekolah tempat saya tidak pernah mengajar, dalam perjalanan yang tidak pernah saya lakukan, dan melaporkan tuduhan yang tidak pernah ada," ujar Turley kepada The New York Post.
Lebih lanjut, Turley menyoroti masalah akuntabilitas perusahaan teknologi. Ia menyatakan bahwa tidak ada permintaan maaf dari OpenAI maupun Microsoft, yang sistem AI-nya juga sempat mengulangi cerita palsu tersebut. Menurutnya, berbeda dengan media massa tradisional yang memiliki wartawan untuk dikonfirmasi, sistem AI sering kali hanya memberikan respons yang tidak bertanggung jawab saat melakukan kesalahan fatal.
Turley mendesak perlunya tindakan legislatif segera untuk mengatur implikasi AI terhadap kebebasan berbicara dan pencemaran nama baik. Ia juga mengomentari pernyataan Presiden Joe Biden yang menyebut dampak bahaya AI "masih harus dilihat." Turley berpendapat bahwa bahaya tersebut sudah nyata dan akun-akun palsu yang dihasilkan AI dapat menyebar luas di internet tanpa kendali.
Hingga berita ini diturunkan, pihak OpenAI belum memberikan komentar resmi terkait klaim yang merugikan reputasi akademisi tersebut.