JAKARTAHYPE.COM - Lanskap industri e-commerce di Asia Tenggara tengah mengalami pergeseran kekuatan yang sangat signifikan. Meski pasar secara umum tumbuh pesat, tidak semua platform mampu mempertahankan kejayaannya di tengah persaingan yang kian sengit.
Berdasarkan laporan terbaru bertajuk "Ecommerce in Southeast Asia 2026", posisi Tokopedia kini justru terlempar ke urutan paling bawah. Platform yang sempat merajai pasar Indonesia ini harus puas berada di posisi buncit di antara para pemain utama lainnya pada tahun 2025.
"Nilai pasar e-commerce di kawasan ini secara keseluruhan diproyeksikan menembus angka US$157,6 miliar pada 2025, atau tumbuh sebesar 22,8 persen secara tahunan," dilansir dari data Momentum Works.
Dalam peta persaingan tersebut, Shopee masih kokoh memimpin dengan perolehan GMV mencapai US$83,2 miliar. Sementara itu, TikTok Shop membayangi di posisi kedua dengan nilai US$45,6 miliar, disusul oleh Lazada yang mencatatkan angka sekitar US$18 miliar.
"Tokopedia mencatatkan angka paling kecil dengan nilai GMV hanya sekitar US$9 miliar, menjadikannya platform dengan performa terendah di antara raksasa e-commerce Asia Tenggara lainnya," dilansir dari laporan Momentum Works.
Fenomena menarik justru ditunjukkan oleh TikTok Shop yang kini menjadi bintang baru di industri digital. Platform besutan ByteDance ini berhasil mencatatkan lonjakan nilai transaksi lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2024.
Jika kekuatan TikTok Shop digabungkan dengan Tokopedia yang kini berada di bawah kendalinya, total GMV mereka di Asia Tenggara mencapai 65,7 persen dari total milik Shopee. Hal ini menandakan ancaman serius bagi dominasi platform asal Singapura tersebut.
Di sisi lain, Lazada memilih langkah strategis yang berbeda dengan memfokuskan operasional pada produk-produk bernilai tinggi. Strategi peningkatan nilai pesan rata-rata (AOV) ini mulai membuahkan hasil positif, terutama di pasar yang sudah matang seperti Singapura, Thailand, dan Filipina.
Perubahan struktur kepemilikan Tokopedia dimulai sejak ByteDance mengambil alih kendali dari GoTo pada Desember 2023 silam. Langkah berani ini dilakukan agar TikTok Shop dapat kembali beroperasi secara legal di pasar Indonesia melalui skema kemitraan.