JAKARTAHYPE.COM - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, baru-baru ini menyampaikan pandangan krusial mengenai pergeseran paradigma kekuatan di tingkat global. Ia menyoroti potensi ancaman serius yang timbul dari penguasaan teknologi oleh segelintir individu dengan kekayaan luar biasa.

Permasalahan utama yang diangkat adalah kecenderungan dunia untuk memusatkan kendali pada segelintir miliarder yang menguasai infrastruktur teknologi mutakhir. Hal ini mencakup pusat-pusat pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi penentu arah peradaban mendatang.

Pengembangan teknologi kecerdasan buatan modern sangat bergantung pada sumber daya komputasi yang memerlukan biaya sangat besar. Ketergantungan ini menciptakan hambatan signifikan bagi pihak lain untuk ikut serta dalam perlombaan teknologi ini.

Sumber daya komputasi mahal tersebut seringkali berbentuk unit pemrosesan grafis (GPU) dengan kapasitas masif yang hanya dimiliki oleh entitas tertentu. Kondisi ini memperkuat posisi mereka yang sudah berada di puncak piramida kekuasaan digital.

Tokoh-tokoh teknologi global terkemuka, seperti Elon Musk dan Jeff Bezos, secara spesifik disebut memiliki potensi pengaruh yang sangat besar. Hal ini disebabkan oleh kepemilikan mereka atas sumber daya komputasi yang dinilai sangat masif dan strategis.

"Ia memperingatkan bahwa kendali dunia akan semakin terpusat pada segelintir individu kaya raya yang menguasai infrastruktur teknologi canggih dan kecerdasan buatan (AI)," demikian disampaikan mengenai inti kekhawatiran Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut menggarisbawahi bahwa konsentrasi sumber daya komputasi ini dapat berimplikasi pada distribusi kekuatan ekonomi dan politik di masa depan. Fenomena ini seringkali disebut sebagai bentuk baru dari oligarki, yakni oligarki digital.

Ketergantungan pengembangan AI pada GPU mahal menjadi faktor kunci yang membatasi persaingan yang sehat dan adil dalam ekosistem teknologi global. Hal ini menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara penguasa teknologi dan sisanya.

"Permasalahan ini muncul karena pengembangan AI sangat bergantung pada sumber daya komputasi yang mahal, seperti unit pemrosesan grafis (GPU)," papar beliau seraya menjelaskan akar masalahnya.