JAKARTAHYPE.COM - Federal Bureau of Investigation (FBI) telah menyampaikan peringatan keras kepada para peretas (hacker) asal China agar meningkatkan kehati-hatian ketika melakukan perjalanan internasional. Ancaman penangkapan ini muncul sebagai konsekuensi dari meningkatnya upaya perekrutan peretas oleh otoritas pemerintah China.
Peringatan ini disampaikan beberapa hari setelah Amerika Serikat berhasil mengekstradisi warga negara China bernama Xu Zewei (34 tahun) dari Italia. Xu menghadapi tuduhan karena diduga terlibat aktif dalam kampanye peretasan berskala besar yang berlangsung pada periode 2020 hingga 2021, yang diduga diarahkan oleh pemerintah China.
Xu Zewei ditangkap di Milan pada bulan Juli 2025, dan proses ekstradisinya ke Amerika Serikat dapat terlaksana setelah pengadilan di Italia memberikan putusan yang mengizinkan pemindahan tahanan tersebut. Ini menunjukkan keseriusan penegakan hukum AS terhadap individu yang terlibat dalam spionase siber yang disponsori negara.
Asisten Direktur FBI, Brett Leatherman, menekankan bahwa perlindungan yang mungkin dinikmati peretas di wilayah China tidak lagi berlaku begitu mereka melintasi batas negara. "Perlindungan yang diterima peretas China di China tidak berlaku begitu melintasi perbatasan," ujar Leatherman dalam pernyataannya, Dilansir dari CNA pada Sabtu (2/5/2026).
Tindakan keras ini mendapat respons dari pihak Beijing. Liu Pengyu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, menyatakan bahwa kasus yang melibatkan Xu Zewei ini bermotif politik. "Pemerintah AS mengadakan kasus bermotif politik ini, yang melanggar kebebasan pribadi dan hak serta kepentingan sah warga negara China," kata Liu Pengyu.
Lebih lanjut, juru bicara Kedutaan Besar China tersebut menegaskan bahwa tuduhan yang diarahkan kepada Xu tidak berdasar. "Tuduhan terhadap Xu tidak beralasan dan bertujuan untuk memfitnah China," tegas juru bicara tersebut.
Menurut Departemen Kehakiman (DOJ) pada 27 April, Xu bersama dengan beberapa kaki tangannya dituduh meretas berbagai institusi penting di AS. Targetnya termasuk universitas, serta para ahli imunologi dan ahli virologi yang sedang melakukan penelitian vital mengenai vaksin, pengobatan, dan pengujian COVID-19.
Penyelidikan DOJ mengungkap bahwa Xu dan rekan-rekannya melaporkan hasil peretasan tersebut kepada Biro Keamanan Negara Shanghai, yang merupakan bagian dari Kementerian Keamanan Negara China. Seorang pejabat di dalam biro intelijen tersebut kemudian memberikan arahan spesifik kepada Xu untuk menargetkan akun email tertentu milik para ilmuwan tersebut.
Selain itu, DOJ juga menyatakan bahwa Xu dan kelompoknya bertanggung jawab atas eksploitasi kerentanan dalam program email Microsoft Exchange Server. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye peretasan yang lebih luas, yang secara publik dilacak dengan kode nama "Hafnium."