JAKARTAHYPE.COM - Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan bahwa awal bulan Zulhijah 1447 Hijriah akan jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026. Penetapan ini menjadi penanda dimulainya periode sepuluh hari pertama bulan Zulhijah yang sangat dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amalan ibadah.
Bagi umat Islam, seluruh rangkaian puasa sunnah di sepuluh hari pertama Zulhijah ini dapat dimulai sejak tanggal 1 Zulhijah hingga hari kesembilan. Pelaksanaan puasa ini meliputi puasa umum Zulhijah, dilanjutkan dengan Puasa Tarwiyah pada 8 Zulhijah, dan Puasa Arafah pada 9 Zulhijah.
Keutamaan melaksanakan ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah ini sangatlah besar, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi mengenai hari-hari yang paling dicintai Allah SWT untuk beribadah.
"Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk dipakai beribadah lebih dari sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan salat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan salat pada malam Lailatulqadar," demikian sabda Rasulullah SAW (HR Tirmidzi).
Keutamaan tersebut diperkuat dengan riwayat lain yang menegaskan bahwa amal shaleh di periode ini lebih utama dari jihad, kecuali satu kondisi spesifik. "Tidak ada amal yang lebih utama daripada sepuluh hari bulan Zulhijah. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?' Beliau menjawab, 'Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki keluar dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah kemudian ia tidak kembali membawa sesuatu'," jelas Rasulullah SAW (HR Ibnu Majah dan lainnya).
Pelaksanaan puasa Zulhijah, sebagaimana puasa sunnah lainnya, diawali dengan membaca niat yang diucapkan sebelum terbit fajar. Niat umum untuk puasa Zulhijah dapat dibaca sebagai berikut: "Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta'ala," yang memiliki arti, "Saya niat puasa sunnah bulan Zulhijah karena Allah Ta'ala."
Terkait waktu pelaksanaan niat puasa sunnah, terdapat panduan spesifik yang perlu diperhatikan oleh umat Muslim. Merujuk pada panduan dari buku Hidup Tenang dan Dikejar-kejar Rezeki karya Zainal Abidin, pelafalan niat ini dapat dilakukan sejak matahari terbenam hingga menjelang fajar menyingsing.
Namun, terdapat juga pandangan ulama lain mengenai fleksibilitas niat puasa sunnah. "Terdapat pula pandangan ulama yang menyatakan bahwa niat puasa sunnah tetap sah dibaca hingga sebelum waktu zuhur tiba, asalkan orang tersebut belum melakukan aktivitas apa pun yang dapat membatalkan puasa sejak subuh," demikian disampaikan dalam pembahasan tersebut.
Untuk hari kedelapan dan kesembilan Zulhijah, terdapat niat khusus yang dianjurkan untuk dibaca. Niat Puasa Tarwiyah adalah, "Nawaitu shauma tarwiyyata sunnatan lillahi ta'ala," dan niat Puasa Arafah adalah, "Nawaitu shauma 'Arafata sunnata Allahi taala."