Jakarta, JakartaHype.com - Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan bagaikan pisau bermata dua.
Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi luar biasa dalam menyelesaikan tugas sekolah, namun di sisi lain, para pakar dari Harvard University memperingatkan adanya ancaman serius terhadap kedalaman proses belajar siswa.
Dalam diskusi terbaru di siniar Harvard Thinking, sejumlah ahli menyoroti bagaimana tantangan ini menuntut penyesuaian besar bagi sekolah, guru, maupun orang tua.
Ancaman di Balik Kemudahan Instan
Data menunjukkan bahwa kemudahan yang ditawarkan chatbot mulai menimbulkan ketergantungan. Berdasarkan survei terhadap sekitar 7.000 siswa SMA, hampir separuh responden mengaku terlalu sering mengandalkan AI dalam belajar. Ironisnya, lebih dari 40 persen di antaranya menyatakan sulit mengurangi penggunaan teknologi tersebut meski sudah mencoba.
Kekhawatiran utama para peneliti adalah hilangnya proses berpikir, latihan, dan pemahaman yang seharusnya menjadi inti dari kegiatan belajar. Ketika siswa menerima jawaban instan, mereka berisiko kehilangan kemampuan fundamental dalam memproses informasi.
"Aspek yang mereka pelajari adalah fakta dan informasi, tetapi yang sama pentingnya adalah kemampuan mereka untuk belajar," ujar Ding Xu, peneliti dari Harvard Graduate School of Education. Menurutnya, kapasitas untuk memperoleh pengetahuan baru inilah yang akan menentukan keterampilan siswa di masa depan.
Pergeseran Metode Belajar
Menghadapi realitas ini, para akademisi menyarankan agar AI diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti logika manusia. Siswa didorong untuk tetap memegang kendali atas proses berpikir mandiri, seperti merancang ide awal atau memecahkan masalah kompleks secara manual.