JAKARTAHYPE.COM - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah merilis temuan serius mengenai proyeksi kenaikan permukaan laut global yang mengindikasikan potensi krisis lingkungan di masa depan. Salah satu fokus utama dari temuan ini adalah ancaman serius terhadap wilayah pesisir, termasuk Indonesia, akibat dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

Proyeksi terbaru NASA menyebutkan bahwa permukaan air laut diperkirakan akan meningkat antara 0,9 hingga 1,8 meter (setara 3 hingga 6 kaki) pada penghujung abad ini, yaitu tahun 2100. Fenomena ini merupakan konsekuensi langsung dari pemanasan global yang memicu pencairan es di wilayah kutub bumi.

Peningkatan permukaan air laut ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada kehidupan ratusan juta penduduk dunia yang bermukim di kawasan pesisir. Mereka terancam kehilangan tempat tinggal karena wilayah tempat tinggal mereka akan mulai terendam air laut secara permanen.

Menurut analisis ilmiah yang dipublikasikan, percepatan pencairan es dan ekspansi termal air laut akibat pemanasan global menjadi pendorong utama kenaikan permukaan laut ini. "Pemanasan global mempercepat pencairan es dan ekspansi termal air laut, yang secara langsung mendorong kenaikan permukaan laut," tulis analisis ilmiah yang dikutip Minggu (3/5/2026).

Jakarta, ibu kota Indonesia, disebut sebagai salah satu kota yang paling terdampak oleh ancaman ini, mengingat laju penurunan tanahnya yang sangat cepat. Data menunjukkan bahwa permukaan tanah di Jakarta bisa turun hingga 17 cm per tahun, diperparah oleh kondisi geografisnya yang merupakan dataran rendah dan bekas kawasan rawa.

Kondisi kerentanan Jakarta diperparah oleh keberadaan 13 sungai besar yang mengalir melaluinya dan bermuara di Laut Jawa, menjadikannya sangat rentan terhadap banjir dan intrusi air laut. Fenomena ini bukan lagi sekadar prediksi masa depan, karena tanda-tandanya telah terlihat dalam beberapa dekade terakhir melalui peristiwa banjir besar.

Salah satu bukti nyata kerentanan Jakarta adalah banjir besar yang terjadi pada tahun 2007, yang mengakibatkan kerugian ratusan juta dolar AS dan merenggut 80 korban jiwa. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah dalam memutuskan pemindahan ibu kota negara ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak tahun 2022.

"Risiko banjir dan penurunan tanah menjadi faktor utama yang mendorong relokasi ibu kota," tulis analisis tersebut.

Selain Jakarta, sejumlah kota besar di berbagai belahan dunia juga menghadapi ancaman serupa akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan daratan. Kota-kota tersebut termasuk Alexandria, Miami, Lagos, Dhaka, Yangon, Bangkok, Kolkata, Manila, serta Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau.