JAKARTA, JakartaHype.com - Kalau kamu kira mogok kerja hanya urusan dalam negeri, lihat yang terjadi di Samsung Electronics sekarang. Konflik antara manajemen dan serikat pekerja raksasa teknologi Korea Selatan ini bukan cuma soal gaji — dampaknya bisa terasa sampai ke harga perangkat elektronik yang kamu pakai sehari-hari.

Apa yang Terjadi?

Serikat pekerja terbesar Samsung Electronics memastikan tetap melanjutkan aksi mogok kerja selama 18 hari mulai 21 Mei 2026, kendati manajemen telah mengajukan proposal baru untuk melanjutkan pembicaraan tanpa prasyarat sebagaimana dikutip dari Bisnis Indonesia pada Jumat (15/5/2026). 

Sebelum itu, dua hari mediasi yang dipimpin pemerintah Korea Selatan berakhir tanpa kesepakatan pada Rabu, 13 Mei 2026. Manajemen Samsung memang mengulurkan tangan — tapi syaratnya ditolak pekerja. Ketua serikat pekerja Choi Seung-ho menyatakan pihaknya tidak akan kembali berunding sebelum perusahaan memenuhi tuntutan utama, dan baru bersedia berdiskusi setelah 7 Juni 2026. 

Apa Tuntutan Para Pekerja?

Ini bukan soal upah saja. Serikat pekerja menuntut penghapusan batas maksimum bonus, skema bagi hasil yang dikaitkan langsung dengan laba operasional, serta menyoroti semakin lebarnya kesenjangan kompensasi dengan produsen chip saingan, SK Hynix, yang baru-baru ini menyetujui ketentuan bonus lebih menguntungkan. Konkretnya, mereka meminta 15 persen dari laba operasional dialokasikan sebagai bonus kinerja anggota serikat. 

Ironis memang, karena Samsung Electronics mencatat laba operasi kuartal I/2026 mencapai rekor 57 triliun won — tapi para pekerja merasa tidak ikut menikmati keuntungan itu secara layak. 

Efek Mogok Kerja yang Sudah Terasa

Mogok kerja Samsung bukan ancaman kosong. Aksi serupa di akhir April sudah membuktikannya. Lebih dari 40.000 pekerja turun aksi di kompleks pabrik semikonduktor Pyeongtaek, Korea Selatan, menyebabkan produksi chip foundry anjlok sekitar 58 persen dan produksi chip memori berkurang 18 persen hanya dalam satu shift malam.  

Ini bukan angka kecil. Samsung adalah produsen chip memori terbesar di dunia, dan pabriknya beroperasi 24 jam tiga shift. Ganggu satu shift — produksi langsung terpukul sebagaimana dikutip dari Investing.com.