JAKARTAHYPE.COM - Kekhawatiran masyarakat mengenai konsumsi daging kambing, khususnya pada kelompok usia 30 hingga 60 tahun, seringkali berpusat pada risiko lonjakan kolesterol dan hipertensi. Asumsi yang telah lama melekat ini kini mendapatkan klarifikasi penting dari sudut pandang medis mengenai karakteristik nutrisi daging merah tersebut.

Edukator kesehatan terkemuka, dr. Tirta Mandira Hudhi, angkat bicara untuk meluruskan persepsi yang telah menjadi mitos di tengah masyarakat Indonesia. Ia menegaskan bahwa daging kambing murni, jika dilihat dari komposisi dasarnya, justru memiliki profil gizi yang menguntungkan bagi tubuh.

Menurut dr. Tirta, daging kambing yang asli sebenarnya tergolong sehat dan memiliki kandungan protein yang bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan daging sapi. Ia menekankan bahwa komponen daging merah itu sendiri justru memiliki potensi untuk membantu menekan angka kolesterol dalam tubuh.

Kenyataan yang terjadi di lapangan adalah munculnya gejala fisik seperti pusing, leher terasa kaku, dan peningkatan tekanan darah drastis setelah mengonsumsi olahan daging kambing. Namun, dr. Tirta menjelaskan bahwa faktor utama pemicu gejala ini bukanlah dagingnya, melainkan cara pengolahannya.

"Yang menyebabkan sate daging kambing, tongseng, tengkleng, dan gule bikin (kolesterol) meroket, komponen garam dan kecapnya," sambung dr. Tirta, menjelaskan bahwa bumbu berperan sentral dalam masalah kesehatan pasca-konsumsi.

Ia menambahkan bahwa penyebab utama ketegangan pada leher dan peningkatan tekanan darah adalah penggunaan bumbu kecap yang berlebihan saat proses memasak. Hal ini mengalihkan fokus dari bahan utama ke zat tambahan yang dimasukkan ke dalam masakan.

Kandungan natrium yang sangat tinggi dari penggunaan garam dan kecap secara berlebihan menjadi biang keladi utama. Zat-zat ini dapat memicu penyempitan pembuluh darah secara instan, yang kemudian menyebabkan peningkatan tekanan darah pada individu yang mengonsumsinya.

"Segala sesuatu makanan yang rasa-rasa itu risiko tinggi. Kalau sudah tahu rasanya asin makanya jangan terlalu berlebihan," tukas dr. Tirta, memberikan nasihat agar masyarakat lebih bijak dalam menikmati makanan dengan rasa yang kuat.

Informasi ini disampaikan dr. Tirta dalam sesi edukasi yang ia unggah melalui platform digitalnya dalam video bertajuk #Suaratirta: Bongkar Lagi Mitos Dan Fakta Kesehatan Biar Ga Salah Paham!. Hal ini disampaikannya pada hari Jumat, 28 Mei 2026.