JAKARTAHYPE.COM - Sorotan pertandingan internasional baru-baru ini beralih bukan hanya pada insiden cedera, melainkan pada benda aneh yang digunakan oleh salah satu pemain di tengah lapangan. Gelandang tim nasional Kanada, Ismael Kone, terlihat menggunakan sebuah tabung kecil berwarna hijau saat ia sedang dalam proses ditandu keluar akibat cedera patah kaki yang serius.
Insiden tersebut langsung memicu perhatian luas dari para penonton dan pengguna media sosial di seluruh dunia. Alat berbentuk peluit yang dihisap oleh Kone tersebut menjadi perbincangan hangat, menimbulkan pertanyaan besar mengenai kegunaan sebenarnya dari benda yang mencuri perhatian tersebut.
Kone harus meninggalkan pertandingan lebih awal karena mengalami cedera yang cukup parah, yaitu patah kaki, yang membutuhkan penanganan medis segera di pinggir lapangan sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan. Prosedur evakuasi ini menjadi momen krusial yang terekam jelas oleh kamera siaran.
Untuk menjawab spekulasi publik mengenai benda misterius tersebut, pihak tim nasional Kanada akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Mereka mengonfirmasi bahwa alat yang digunakan Kone adalah sebuah perangkat medis yang memang telah dipersiapkan.
Alat yang disebut 'Green Whistle' oleh sebagian orang tersebut sejatinya adalah sebuah inhaler medis bernama Penthrox. Penthrox dikenal juga dengan nama generiknya, yaitu metoksifluran, yang memiliki fungsi spesifik dalam penanganan rasa sakit.
Dikutip dari TSN, media lokal Kanada, para petinggi timnas mengkonfirmasi bahwa inhaler tersebut adalah Penthrox, juga dikenal sebagai metoksifluran, obat penghilang rasa sakit non-opioid yang bekerja cepat dan digunakan sendiri untuk meredakan nyeri jangka pendek.
Metoksifluran ini dikategorikan sebagai obat penghilang rasa nyeri yang tidak termasuk golongan opioid. Keunggulannya terletak pada kecepatan kerjanya, menjadikannya pilihan efektif untuk memberikan bantuan pereda nyeri dalam waktu singkat bagi atlet yang mengalami trauma mendadak.
Penggunaan Penthrox sendiri dirancang sedemikian rupa sehingga atlet dapat menggunakannya secara mandiri (self-administered) untuk mengelola rasa sakit sementara sebelum penanganan lebih lanjut oleh tim medis profesional. Hal ini menunjukkan adanya protokol penanganan cedera yang terstruktur dalam tim tersebut.
Penggunaan alat ini dalam konteks cedera lapangan telah menjadi solusi praktis di beberapa cabang olahraga untuk memastikan kenyamanan atlet saat proses pemindahan dari area bermain. Ini adalah bagian dari upaya tim medis untuk meminimalisir dampak rasa sakit akut.