JAKARTAHYPE.COM - Perhatian publik kembali tertuju pada Bryan Johnson, miliarder Amerika Serikat yang dikenal luas karena menjalankan protokol panjang umur (longevity protocol) yang sangat ketat. Belum lama ini, Johnson mengejutkan komunitas media sosial setelah secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis menderita autoimmune gastritis.
Kondisi medis ini sering kali digambarkan dengan istilah yang cukup dramatis di kalangan awam, yaitu situasi di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan lambung itu sendiri. Pengungkapan ini menjadi sorotan karena terjadi pada seseorang yang sangat fokus pada kesehatan optimal dan pencegahan penyakit.
Untuk memahami lebih lanjut mengenai kondisi ini, Dr. Shankar Zanwar, seorang konsultan senior gastroenterologi yang berbasis di Gleneagles Hospital, Mumbai, memberikan penjelasan medis mengenai autoimmune gastritis. Secara definisi, ini adalah penyakit kronis yang melibatkan respons imun yang salah sasaran.
Dr. Zanwar menjelaskan bahwa dalam kasus autoimmune gastritis, sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel-sel parietal yang berada di dinding lambung. Sel-sel parietal ini memiliki peran yang sangat krusial dalam proses pencernaan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Fungsi vital dari sel parietal yang diserang adalah memproduksi asam lambung, yang penting untuk mendegradasi makanan. Selain itu, sel tersebut juga bertanggung jawab memproduksi zat esensial yang dibutuhkan tubuh untuk proses penyerapan vitamin B12 yang efektif.
Mengenai penyebab pasti dari kondisi ini, Dr. Zanwar menegaskan bahwa etiologi atau asal muasal penyakit tersebut belum sepenuhnya terungkap oleh ilmu pengetahuan saat ini. Akan tetapi, ia menyebutkan adanya dugaan kuat mengenai faktor pemicu yang mendasarinya.
"Penyebab pastinya belum dipahami sepenuhnya, namun diyakini merupakan kombinasi dari predisposisi genetik dan disfungsi sistem imun, bukan karena faktor makanan semata," kata Dr. Zanwar.
Hal ini mengindikasikan bahwa autoimmune gastritis bukanlah penyakit yang serta merta bisa dicegah hanya dengan mengontrol pola makan atau gaya hidup tertentu. Kondisi ini memiliki akar yang lebih dalam terkait dengan warisan genetik dan gangguan pada sistem pertahanan tubuh.
Dr. Zanwar melanjutkan penjelasannya mengenai mengapa kondisi ini bisa menyerang siapa saja, terlepas dari upaya menjaga kesehatan. "Inilah mengapa seseorang tetap bisa terkena penyakit ini meskipun sudah mengonsumsi makanan bergizi, makan daging, atau menjaga gaya hidup sehat termasuk berjemur," kata Dr. Zanwar.