JAKARTAHYPE.COM - Fenomena regresi perilaku pada anak usia balita sering terjadi, terutama ketika ada perubahan signifikan dalam lingkungan keluarga, seperti penambahan anggota baru. Perubahan ini dapat memicu dinamika emosional yang kompleks pada anak sulung yang belum mampu mengekspresikan perasaannya secara verbal.
Menurut informasi yang diolah dari Medcom, kurangnya jam tidur serta terbaginya perhatian orang tua merupakan faktor pemicu utama yang dapat menyebabkan perubahan sikap mendadak pada si kecil. Balita cenderung menunjukkan reaksi yang menyerupai kebiasaan masa bayi sebagai mekanisme penyesuaian diri terhadap peran barunya di rumah.
Gejala regresi perilaku ini bermanifestasi dalam berbagai bentuk kemunduran keterampilan yang sebelumnya sudah dikuasai oleh anak. Beberapa indikator yang sering muncul adalah munculnya keinginan untuk kembali menggunakan popok atau menuntut untuk kembali minum menggunakan botol susu.
Selain itu, anak juga mungkin menunjukkan penolakan terhadap jadwal tidur siang yang selama ini sudah rutin dijalankan. Hal ini menjadi sinyal bahwa anak sedang mengalami tekanan emosional akibat pergeseran fokus kasih sayang orang tua.
Tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya perilaku menguji batasan yang sudah ditetapkan, sering berbicara seperti bayi, atau menunjukkan peningkatan kebutuhan untuk sering digendong. Ketertarikan mendadak pada mainan milik adik juga sering menjadi manifestasi dari persaingan antar saudara (sibling rivalry).
Ketika orang tua mendapati adanya kemunduran kemampuan harian, misalnya hilangnya kemampuan untuk tidur mandiri atau kemunduran dalam rutinitas toilet training, hal ini harus ditanggapi dengan kehati-hatian. Kemunduran ini bisa juga mencakup aspek keterampilan yang sebelumnya sudah dikuasai, seperti kemampuan toilet.
Menghadapi fase regresi ini, pendekatan orang tua yang penuh pengertian dan penerimaan sangat dianjurkan untuk diterapkan. Respons yang positif dan ceria terbukti jauh lebih membantu proses adaptasi anak dibandingkan dengan memberikan sanksi atau membuat anak merasa malu atas perilakunya.
Psikolog perkembangan dari California, Kelley Yost Abrams, Ph.D., memberikan panduan penting mengenai cara merespons kebutuhan emosional anak selama periode transisi ini.
"Sebisa mungkin, akui perasaannya ‘Oh, kadang-kadang memang enak jadi bayi!’ Dan bersikaplah ceria ‘Astaga, aku punya dua bayi kecil,’" ujar Kelley Yost Abrams, Ph.D.