JAKARTAHYPE.COM - Dampak jangka panjang dari pengalaman kekerasan saat masa kanak-kanak terbukti meninggalkan jejak signifikan yang memengaruhi kehidupan seseorang hingga dewasa. Para ahli kini mengidentifikasi bahwa individu yang pernah mengalami kekerasan di masa kecil memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam hubungan yang penuh kekerasan ketika mereka beranjak dewasa.
Sebuah penelitian mendalam baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Regional Health – Europe, yang bertujuan mengupas tuntas mekanisme di balik korelasi tersebut. Riset ini dipimpin oleh Patrizia Pezzoli dari University College London (UCL) dan menganalisis data dari lebih dari 11.000 pasangan kembar di Inggris melalui proyek Twins Early Development Study.
Tujuan utama dari studi ini adalah memisahkan secara jelas antara pengaruh faktor genetika dan faktor lingkungan dalam membentuk kerentanan ini. Sebelumnya, para ilmuwan sering mengalami kesulitan dalam membuktikan korelasi langsung karena lingkungan yang penuh kekerasan sering kali juga disertai masalah kompleks lain seperti kemiskinan dan isolasi sosial.
Tim ilmuwan melakukan analisis DNA pada 8.400 partisipan untuk memetakan 18 sifat psikologis dan perilaku yang diduga menjadi penghubung antara trauma masa kecil dan kekerasan di masa dewasa. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa faktor genetik menyumbang sekitar 17% hingga 31% dari variasi pengalaman kekerasan yang dialami individu.
Meskipun demikian, faktor genetik tidak menentukan nasib seseorang secara mutlak, melainkan cenderung memengaruhi respons emosional, tingkat impulsivitas, dan cara seseorang merespons tekanan stres. Setelah variabel genetik dan kondisi lingkungan luar disaring, korelasi langsung antara trauma masa kecil dan kekerasan saat dewasa tampak menurun.
Fakta menariknya, sekitar 65% keterkaitan yang tersisa ternyata berjalan melalui jalur psikologis yang terbentuk akibat pengalaman masa kecil tersebut. Tiga kerentanan utama yang paling konsisten terdeteksi dari 18 sifat yang diamati adalah rendahnya tingkat kesejahteraan subjektif, adanya masalah perilaku (conduct problems), serta kecenderungan agresif.
Individu dengan kesejahteraan subjektif yang rendah cenderung memiliki fondasi emosional yang rapuh dan jejaring sosial yang kurang kuat saat menghadapi kesulitan dalam hidup mereka. Dilansir dari Media Indonesia, hasil studi ini memberikan pemahaman baru mengenai dampak psikologis kekerasan masa kecil.
"Apa yang ditunjukkan oleh studi ini kepada kita adalah bahwa perlakuan salah di masa kanak-kanak dapat meninggalkan bekas psikologis yang dapat meningkatkan risiko bahaya dalam hubungan romantis," jelas Patrizia Pezzoli mengenai temuan utama tersebut.
Lebih lanjut, Pezzoli menekankan bahwa pola perilaku seperti agresivitas pada penyintas bukanlah cacat karakter bawaan, melainkan strategi adaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan masa kecil yang penuh ancaman. "Namun, bekas-bekas luka tersebut tidaklah abadi dan dapat diatasi melalui intervensi yang tepat sasaran," tambah Pezzoli.