JAKARTAHYPE.COM - Shalat Idul Adha merupakan salah satu ibadah sunnah muakkadah yang memiliki tata cara pelaksanaan sedikit berbeda dibandingkan shalat fardhu berjamaah, khususnya terkait panggilan ibadah. Perbedaan mendasar ini terletak pada ketiadaan tradisi mengumandangkan azan dan iqamah sebelum shalat dimulai.
Sebagai pengganti panggilan resmi tersebut, sosok bilal memegang peran penting dalam ritual Idul Adha, yaitu menyerukan kalimat khusus untuk mengumpulkan serta mempersiapkan jamaah. Tradisi unik ini terus dipertahankan secara turun-temurun di berbagai masjid maupun lapangan luas saat perayaan Hari Raya Kurban.
Ketentuan mengenai tidak diperlukannya azan dan iqamah dalam shalat Id ini berakar kuat pada sejarah praktik Rasulullah SAW. Hal ini didasarkan pada riwayat shahih dari sahabat Nabi, Ibnu Abbas RA, yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersama para Khulafaur Rasyidin tidak menggunakan kedua seruan tersebut saat melaksanakan shalat hari raya.
Penjelasan rinci mengenai seruan pengganti yang harus dilantunkan bilal ini juga telah didokumentasikan dengan baik dalam kitab fikih klasik. Hal tersebut termaktub jelas dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, yang merupakan karya monumental dari Imam An-Nawawi.
Tugas bilal dimulai jauh sebelum imam memimpin shalat dan berlanjut hingga memasuki sesi penyampaian khutbah setelah shalat selesai dilaksanakan. Tahapan ini mencakup urutan bacaan spesifik yang harus dilafalkan untuk menandai dimulainya rangkaian ibadah tersebut.
Pertama, bilal membuka seluruh rangkaian ibadah dengan mengumandangkan seruan panggilan shalat berjamaah sebanyak tiga kali berturut-turut. Seruan yang dikumandangkan adalah: "Ash-shalāta jāmi'ah" (3x), yang kemudian diikuti dengan kalimat ajakan lengkap: "Shallū sunnatan li ‘ādil-Aḍḥā rak‘ataini jāmi‘ah, raḥimakumullāh."
"Shalat berjamaah (3x). Laksanakanlah shalat sunnah Idul Adha dua rakaat berjamaah, semoga Allah merahmati kalian," demikian makna dari seruan yang dikumandangkan oleh bilal tersebut, mengajak seluruh hadirin untuk segera bersiap. Setelah seruan ini selesai, imam akan segera mengambil posisi di mihrab untuk memimpin jalannya shalat Idul Adha.
Setelah rangkaian shalat Id selesai ditunaikan, bilal segera bertugas kembali untuk mempersiapkan jamaah mendengarkan khutbah, yang merupakan bagian penting dari rangkaian Idul Adha. Bilal akan berdiri tegak, biasanya memegang tongkat di tangan kanan dan mikrofon di tangan kiri sebagai isyarat bahwa khutbah akan segera dimulai.
Sambil menghadap penuh ke arah jamaah yang hadir, bilal kemudian melantunkan kalimat ajakan untuk menyimak khutbah yang akan disampaikan oleh khatib. Bacaan pembukaannya adalah: "Yā ma‘āsyiral-muslimīn wa zumratal-mu’minīn raḥimakumullāh. I‘lamū anna yaumakum hādzā yaumul-‘īdil-akbar, fataqarrabū ilallāhi fin-naḥr."