JAKARTAHYPE.COM - Banyak pasangan cenderung menghindari perselisihan karena khawatir hubungan mereka akan berakhir, padahal perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam interaksi dua individu. Upaya terus-menerus meredam perdebatan demi ketenangan semu justru dapat menguras energi emosional kedua belah pihak.

Menurut psikolog Mark Travers, mustahil sebuah hubungan dapat berjalan tanpa adanya perselisihan atau perbedaan pandangan di antara pasangan. Hal ini disampaikannya dalam tulisan yang dimuat di Forbes, sebagaimana disadur pada Minggu (17/5/2026).

Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa konflik yang dihadapi dengan kepala dingin mampu mendongkrak kualitas hubungan secara signifikan, seperti yang dikutip dari Lifestyle. Namun, kemampuan untuk menyelesaikan masalah tersebut bukanlah sebuah bakat bawaan sejak lahir.

Terdapat tiga manfaat utama yang bisa diperoleh dari perselisihan yang sehat untuk keberlangsungan komitmen jangka panjang dalam sebuah hubungan asmara.

Salah satu contoh masalah terjadi ketika pasangan melontarkan lelucon pribadi di depan umum yang ternyata menyinggung perasaan. Jika responsnya adalah diam yang kemudian meledak menjadi tuduhan bahwa pasangan tidak menghargai, maka komunikasi menjadi tidak efektif.

"Percakapan pun dengan cepat berubah menjadi ajang debat soal niat versus dampak, dan soal siapa yang 'terlalu sensitif.' Tapi akar masalahnya, yaitu bagaimana tindakan satu pihak melukai perasaan pihak lain, justru tidak pernah benar-benar bahas," kata Travers.

Menyampaikan teguran secara lugas, jujur, dan tenang merupakan pendekatan yang jauh lebih baik dalam menangani insiden tersebut. Mengungkapkan ketidaknyamanan secara langsung dan meminta batasan privasi dijaga akan membantu pasangan mengerti kesalahannya tanpa perlu menebak-nebak maksud sebenarnya.

"Perbedaan dari kedua interaksi pertengkaran ini terletak pada tingkat kejelasannya. Cara pertama sangat kabur, terlalu umum, dan sekadar meluapkan emosi tanpa memberi pemahaman," ujar Travers.

"Sementara cara kedua lebih jelas, terarah, dan memberi tahu pasangan apa langkah nyata yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan," sambung dia, menekankan pentingnya komunikasi yang spesifik.